CONTOH JURNAL UNTUK PAUD-SD


MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR (active learning) SISWA

BERKARAKTER CERDAS DENGAN PENDEKATAN SAINS TEKNOLOGI (STM)

ABSTRACT

Purpose of the research is to know improvement of learning activity with character

intelligent and creativity student among the fifth grade students of SD Negeri III-162

Banjarsari Surakarta in study IPA by using Sains Teknologi Masyarakat (STM) approach.

The research uses a qualitative method with a research type of classroom action

research (CAR) consisting of two cycles. The research procedure consists of four phases, that

are planning, action implementation, observation, and reflection. Subject of the research is

the fifth grade students of SD Negeri Sumber III-162 amounting to 37 students. Data is

collected by using observation, documentation, and test.

Based on result of the research, it can be concluded that IPA learning by using Sains

Teknologi Masyarakat (STM) approach is able to improve learning activity with character

intelligent and creativity student. Improvement of the students learning activity could be seen

in the increased of observation paper. In beginning condition, average learning activity was

66,46 or in poor category. The average learning activity increased to 71,51 or in moderate

activity in first cycle, and it increased to 80,35 or in good category in second cycle. Thereby,

applications of Sains Teknologi Masyarakat (STM) approach can be used to improve IPA

learning activity among the fifth grade students of SD Negeri 3 Ngraji Purwodadi Grobogan

of 2009/2010 Academic Year.

Keyword : STM, improvement of learning activity with character intelligent and creativity

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Penguasaan dan penggunaan IPTEK merupakan kunci penting dalam kehidupan abad

ini. Oleh karena itu, peserta didik perlu dipersiapkan untuk mengenal, memahami dan

menguasai IPTEK dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya. Upaya untuk

mempersiapkan hal tersebut dilakukan melalui pendidikan formal dan non formal.

Pendidikan sains (IPA) sebagai bagian dari pendidikan umumnya memiliki pera nan

penting dalam peningkatan mutu pen didikan. Pada peningkatan ini, khu susnya di dalam

menghasilkan peserta di dik yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu ber pikir kritis,

kreatif, logis, dan berini siatif dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh

dampak perkembangan il mu pengetahuan/sains dan teknologi (IPTEK).

Namun, pembelajaran IPA masa seka rang ini kurang dikaitkan dengan isu sosial dan

teknologi yang ada di masya rakat, terutama yang berkaitan dengan perkem bangan teknologi

dan kehadiran produk-produk teknologi di masyarakat, serta aki bat yang ditimbulkannya.

Penga jaran IPA di seko lah semata-mata hanya berorientasi pada tuntutan kurikulum yang

telah ditu angkan di dalam buku teks. Pembelajaran di kelas pun masih didomi nasi oleh cera

mah dari guru. Aktivitas siswa dapat dika takan hanya mendengar kan penjelasan guru dan

men catat hal-hal yang dianggap penting. Guru hanya menjelaskan sebatas produk dan sedi

kit proses.

Seorang guru tidaklah mudah mencipta kan kondisi yang kondusif bagi semua siswa.

Ada siswa yang proaktif, ada siswa yang ti dak banyak bicara (pendiam) tetapi memiliki

kemampuan akademik di atas temannya, dan terdapat pula siswa yang banyak bicara tetapi

memiliki kemampuan rendah. Bahkan, ada siswa dengan kemampuan akademik menengah ke

bawah merasa tertekan dengan materi IPA yang pe nuh dengan teori, konsep, rumus-rumus,

dan praktikum yang rumit bahkan sulit di pahami.

Hal tersebutlah yang dapat menyebab kan kurang bermaknanya pelajaran IPA ini,

sehingga menyebabkan aktivitas belajar sis wa menjadi rendah dan pembelajaran cen derung

pasif. Padahal, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pende katan pengajaran

yang digunakan dalam kegi atan pembelajaran seharusnya siswa diposisi kan sebagai pusat

perhatian atau dengan kata lain siswa yang aktif.

Berdasarkan daftar nilai ulangan harian IPA khususnya pada materi pesawat sederha

na di kelas V SD Negeri Sumber III, menun jukkan rata-rata kelas yang masih ren dah, yaitu

hanya 61. Selain itu, dari hasil obser vasi yang dilakukan di kelas V SD Negeri Sumber III,

guru menjelaskan mate ri dengan didominasi oleh penggunaan metode cera mah, tanya jawab

dan kegiatan lebih ber pusat pada guru. Aktivitas siswa dapat di katakan hanya

mendengarkan penjelasan gu ru, mencatat hal-hal yang diang gap penting saja, dan menjawab

pertanyaan jika ditunjuk, ada pula beberapa siswa yang mengantuk, bermalas-malasan dan

melakukan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan pela jaran.

Selain itu, menurut Sardiman aktivitas sis wa tidak hanya mendengarkan dan men

catat saja tetapi lebih menitikberatkan pada aktivi tas atau keikutsertaan siswa dalam proses

pembelajaran. Penggunaan metode ceramah lebih cenderung menghasilkan kegiatan bela jar

mengajar yang membosan kan bagi anak didik. Kondisi seperti ini sangat tidak me

nguntungkan bagi guru dan anak didik. Guru mendapatkan kegagalan dalam penyam paian

pesan-pesan keilmuan dan anak didik diru gikan. Akibatnya masih banyak siswa yang

mengalami kesulitan dalam belajar biologi se hingga hasil belajar yang diperoleh belum

memuaskan dan terbilang masih rendah. (Sardiman, 2003: 95)

Dalam upaya meningkatkan penguasaan materi siswa terhadap konsep-konsep dan

prinsip-prinsip IPA serta meningkatkan literasi sains dan teknologi siswa, mestinya penyajian

materi ajar IPA di sekolah selalu dikaitkan dan disepadankan dengan isu sosial dan teknologi

yang ada dima syarakat. Dalam hal ini, pendekatan yang sesuai de ngan perkembangan

IPTEK adalah pende katan Sains Teknologi Masya rakat (STM), karena pendekatan ini me

mungkinkan siswa berperan aktif dalam pembelajaran dan dapat menampilkan peranan sains

dan teknologi di dalam kehidupan masyarakat. Tujuan utama pen dekatan STM ini adalah

menghasilkan siswa yang cukup mempunyai bekal penge tahuan, sehingga mampu

mengambil keputu san penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat (Iskandar, 1996 :

1). Melalui pen dekatan Sains Teknologi Masya rakat dapat dikembangkan 6 ranah sains

yaitu ranah konsep, proses, aktivitas, sikap, aplikasi, dan keterkaitan (Anna Poedjiadi, 2005:

131-132)

Dari hasil penelitian-penelitian sebe lumnya menunjukkan bahwa pembelajaran sains dengan

pendekatan STM memberikan hasil yang positif bagi siswa. Rasa bosan dan kurangnya minat

siswa berkurang setelah di lakukan pembelajaran sains dengan pendeka tan STM dan terjadi

pe ningkatan minat dan rasa ingin tahu. Hasil penelitian Myers dan Varrella menyatakan

bahwa pembelajaran sains dengan pende katan STM sangat efektif untuk mening katkan

penguasaan konsep,dan siswa lebih mampu menerapkan konsep-konsep sains yang diperoleh

dalam kehidup an sehari-hari. (Myers dan Varrella dalam Iskandar, 1994: 5)

Dengan dasar latar belakang tersebut a kan diadakan penelitian tentang “ Pendekatan sains

Teknologi Masyarakat (STM) pada ke las 5 SD sebagai upaya meningkatan aktivi tas bealajar

(active lear ning) yang berkara kter cerdas dan kreatif Siswa SD Sumber III Negeri di

Kecamatan Banjarsari Surakarta”.

Landasan Teori

Hampir semua kegiatan manusia yang meliputi kecakapan, keterampilan, kegemaran,

kebiasaan, pengetahuan, dan si kap manusia terbentuk dan berkembang kare na adanya

belajar.Belajar bisa terjadi di ma na-mana, baik itu di rumah, masyarakat, kan tor, pabrik

bahkan bisa terjadi di jalan dan tentu saja di lembaga pendidikan formal dan non formal

(Sardiman, 2000: 20)

Makna belajar menurut beberapa ahli yang dikutip oleh Sardiman yaitu:

1) Cronbach

Learning is shown by a change in behavior as a result of experience.

2) Harold Spears

Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to

follow direction.

3) Geoch

Learning is a change in performance as a result of practice.

(Sardiman, 2000: 20)

Menurut Sardiman belajar dalam arti lu as yaitu kegiatan psiko-fisik menuju ke per

kembangan pribadi seutuhnya, sedangkan da lam arti sempit belajar adalah usaha pengu

asaan materi ilmu pengetahuan yang merupa kan sebagian kegiatan menuju terbentuknya

kepribadian seutuhnya. (Sardiman, 2000: 20)

Relevan dengan pengertian di atas, bela jar adalah berubah, artinya suatu peru bahan pada

individu-individu yang belajar. Peru bahan tidak hanya berkaitan dengan penam bahan ilmu

pengetahuan, tetapi juga berben tuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengerti an, harga diri,

minat, watak, dan penyesuaian diri. Perubahan ini bisa dilakukan dengan membaca,

mengamati, mendengarkan, meni ru, dan sebagainya.

Menurut Oemar Hamalik menge mukakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang

relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. (Oemar Hamalik, 2003: 154). Kriteria

keberhasilan dalam be lajar diantaranya ditandai dengan ter jadinya perubahan tingkah laku

pada diri individu yang belajar. Seperti yang dikemukakan oleh (Nana Sudjana, 2007: 8)

bahwa:

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri seseorang.

Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk,

seperti berubah pe ngetahuan, pemahaman, sikap, dan ting kah laku, keterampilan,

kecakapan, ke biasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang

bela jar

Slameto mengemukakan bahwa belajar a dalah suatu proses usaha yang dilakukan

sese orang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2007:

9).

Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah:

1) Perubahan terjadi secara sadar.

2) Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.

3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.

4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.

5) Perubahan dalam belajar bertujuan terarah.

6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.

Dari definisi belajar tersebut dapat disim pulkan bahwa belajar adalah suatu

perjalanan yang dilakukan seseorang dengan tujuan un tuk memperoleh sesuatu hal dimana

terjadi perubahan tingkah laku yang disebabkan ka rena adanya pengalaman. Ada beberapa

ciri-ciri dari pengertian belajar, yaitu:

1). Belajar merupakan suatu perubahan ting kah laku yang terjadi melalui interaksi an tara

individu dengan lingkungan nya kare na Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi

melalui latihan dan penga laman, dalam arti perubahan-perubahan karena pertumbuhan dan

kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar. di dalam interaksi inilah terjadi se

rangkaian pengalaman belajar.

2). Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, dalam

arti perubahan-perubahan karena pertumbuhan dan kematangan tidak dianggap sebagai hasil

belajar.

3). Perubahan yang disebabkan oleh belajar harus relatif lama, dalam arti perubahan tersebut

tidak hanya bersifat sementara tetapi dalam jangka waktu yang lama.

4). Tingkah laku yang mengalami perubahan karena menyangkut berbagai aspek kepribadian,

baik fisik maupun psikis.

Aktivitas Belajar

Dalam proses pembelajaran, keaktif an peserta didik merupakan hal yang sangat

penting dan perlu diperhatikan oleh guru se hingga proses pembelajaran yang ditempuh

benar-benar memperoleh hasil yang optimal. Dengan bekerja siswa memperoleh pengeta

huan, pemahaman, dan keterampilan serta pe rilaku lainnya, termasuk sikap dan nilai.

Proses pembelajaran yang berlangsung di kelas, sebetulnya sudah banyak melibatkan

akademik aktivitas siswa di dalam kelas. Sis wa sudah banyak dituntut aktivitasnya untuk

mendengarkan, memperhatikan dan mencer na pelajaran yang diberikan oleh guru. Serta

dimungkinkan siswa aktif bertanya kepada guru tentang hal-hal yang belum jelas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan aktivitas berasal dari kata kerja a

kademik aktif yang berarti giat, rajin, selalu berusaha bekerja atau belajar dengan sung guh- sungguh supaya mendapat prestasi yang gemilang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007:

12). Pengertian lain dikemukakan oleh Wijaya yaitu “Keterlibatan intelektual dan emosional

siswa dalam kegiatan belajar me ngajar, asimilasi (menyerap) dan akomodasi (menyesuaikan)

kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan, serta pengalaman langsung dalam

pembentukan sikap dan nilai” (Wijaya, 2007: 12).

Kadar keaktifan dalam belajar secara efektif menurut Tabrani Rusyan, (1994: 128-129) dapat

dinyatakan dalam bentuk:

1) Hasil belajar peserta didik pada umum nya hanya sampai tingkat peng gunaan. Siswa

biasanya belajar dengan meng hafal saja, apabila telah hafal siswa mera sa cukup.

Padahal dalam belajar, hasil be lajar tidak hanya dinyatakan dalam pe nguasaan saja tetapi

juga perlu adanya penggunaan dan penilaian.

2) Sumber belajar yang digunakan umum nya terbatas pada guru dan satu dua buku bacaan.

Hal ini perlu dipertanyakan apa kah siswa mencatat penje lasan dari guru dengan efektif

dan apa kah satu-dua buku itu dikuasainya dengan baik. Jika tidak, aktivitas belajar siswa

kurang optimal ka rena miskinnya sumber belajar.

3) Guru dalam belajar kurang merangsang aktivitas belajar siswa secara optimal. Se bagai

contoh pada umumnya guru menga jar dengan menggunakan metode cera mah dan tanya

jawab. Jarang sekali diada kan diskusi dan diberikan tugas-tugas yang memadai. Hal

inipun tidak jarang kurang ditunjang oleh penugasan dan ke terampilan guru dalam

menggunakan me tode-metode tersebut.

Rosseau menyatakan bahwa dalam belajar segala pengetahuan harus diperoleh dengan

pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, de ngan bekerja sendiri, dengan fasilitas yang di

ciptakan sendiri, baik secara rohani maupun teknis (Rosseau dalam Sardiman A.M, 2000:

96). Hal ini menunjukkan bahwa setiap oleh rang yang bekerja harus aktif sendiri, tanpa a

danya aktivitas maka proses belajar tidak mungkin terjadi. Lebih lanjut Montessori me

negaskan bahwa anak-anak itu memiliki tena ga-tenaga untuk berkembang sendiri, mem

bentuk sendiri, dan pendidik akan berperan sebagai pembimbing dan mengamati bagai mana

perkembangan anak didiknya (Montess ori dalam Sardiman A.M, 2000: 96).

Jika kegiatan belajar mengajar bagi siswa diorientasikan pada keterlibatan intelektual,

emosional, fisik dan mental maka Paul B. Diedrich menggolongkan aktivitas belajar siswa

sebagai berikut:

1) Visual activities, seperti: membaca, mem perhatikan gambar, demonstrasi, perco baan,

pekerjaan orang lain dan sebagai nya

2) Oral activities, seperti: menyatakan, me rumuskan, bertanya, memberi saran, me

ngeluarkan pendapat, mengadakan in terview, diskusi, interupsi dan sebagai nya.

3) Listening activities, seperti mendengar kan uraian, percakapan, diskusi, music, pidato

dan sebagainya.

4) Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan, tes, angket, menyalin dan

sebagainya.

5) Drawing activities, seperti menggambar, membuat grafik, peta, diagram, pola dan

sebagainya.

6) Motor activities, seperti melakukan per cobaan, membuat konstruksi, model, me reparasi,

bermain, berkebun, memelihara binatang dan sebagainya.

7) Mental activities, seperti menanggap, mengingat, memecahkan soal, mengana lisis,

melihat hubungan, mengambil ke putusan dan sebagainya.

8) Emosional activities, seperti menaruh mi nat, merasa bosan, gembira, berani, te nang,

gugup dan sebagainya (Paul B. Diedrich dalam Sardiman A.M, 2000: 101).

Berdasarkan pengertian aktivitas belajar di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas

belajar merupakan kegiatan belajar yang harus dilaksanakan dengan giat, rajin, selalu

berusaha dengan sungguh-sungguh melibatkan fisik maupun mental secara optimal yang

meliputi Visual activities, Oral activities, Listening activities, Writing activities, Drawing

activities, Motor activities, Mental activities, Emosional activities supaya mendapat prestasi

yang gemilang.

Aktivitas belajar seperti di atas dapat dialami seorang siswa di sekolah maupun pada

waktu belajar di rumah. Bentuk aktivitas belajar yang lain adalah diskusi di antara teman,

mengerjakan pe kerjaan rumah yang diberikan oleh guru, dan lain sebagainya dimana semua

aktivitas itu bertujuan untuk memberikan peran aktif ke pada siswa dalam proses

pembelajaran. Oleh sebab itu, besar harapannya seorang siswa yang benar-benar aktif akan

memperoleh hasil belajar yang baik.

Aktivitas Belajar IPA

Dari pengertian aktivitas belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar

IPA adalah kegiatan belajar IPA yang me libatkan kemampuan intelektual, emosional, fisik

dan mental, baik melalui kegiatan me ngalami, menganalisis, berbuat maupun pem bentukan

sikap secara terpadu supaya terca pai prestasi belajar IPA yang baik.

Berpikir Kreatif

Menurut Iskandar (2009: 88) definisi ke mampuan berpikir kreatif dilakukan dengan

menggunakan pemikiran dalam mendapat ide-ide baru, kemungkinan yang baru, cipta an

yang baru berdasarkan kepada keaslian da lam penghasilannya. Ia dapat diberikan da lam

bentuk ide yang nyata ataupun abstrak.

Ciri Karakter Cerdas dan Kreatif

Terdapat 10 (Sepuluh) ciri-ciri karakter cerdas dan kreatif, yaitu : (1) Imajinatif. (2)

Mempunyai prakarsa. (3) Mempunyai minat luas. (4) Mandiri dalam berpikir. (5) Meli

hat(selalu ingin tahu tentang segala hal). (6) Senang berpeluang. (7) Penuh energi. (8)

Percaya diri. (9) Bersedia mengambil re siko.(10) Berani dalam pendirian dan keya kinan

(SC. Utami M, 2004: 31).

Sedangkan ciri-ciri aktivitas menurut Conny Semiawan, dkk (1994: 29) dorongan

ingin tahu besar; sering mengajukan perta nyaan yang baik; memberikan banyak gagasan atau

usul terhadap suatu masalah; bebas dalam menyatakan pendapat; menonjol dalam salah satu

bidang seni; mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah

terpengaruh orang lain; daya imajinasi kuat; orisinalitas tinggi (tampak dalam ungkapan

gagasan, karangan, dan sebagainya serta menggunakan cara-cara orisinal dalam peme cahan

masalah); dapat bekerja sendiri; dan se nang mencoba hal-hal yang baru.

Kemampuan cerdas dan kreatif peserta di dik tidak hanya menerima informasi dari gu

ru, namun peserta didik akan berusaha men cari dan menemukan informasi dalam proses

pembelajaran. Kemampuan kreatif akan men dorong peserta didik merasa memiliki harga

diri, kebanggaan dan kehidupan yang lebih dinamis.

Aktivitas mempunyai hubungan erat de ngan kepribadian seseorang. Pengembangan

kemampuan kreatif akan mempengaruhi pa da sikap mental atau kepribadian seseo rang.

Siswa yang kreatif akan memiliki kepribadi an yang lebih integratif, mandiri, luwes dan

percaya diri.

Meskipun aktivitas merupakan konsep yang pengertiannya sangat kompleks, mengi

dentifikasi ciri-ciri aktivitas pada diri sese orang siswa, sedikitnya dapat membantu me

ngenal bagaimana sebenarnya seorang siswa yang kreatif itu. Adapun ciri-ciri siswa kreatif

adalah seba gai berkut: (1) Memiliki rasa ingin tahu yang mendalam. (2) Memberikan banyak

gagasan, usul-usul terhadap suatu masalah. (3) Mam pu menyatakan pendapat secara spontas

dan tidak malu-malu. (4) Mempunyai rasa kein dahan. (5) Menonjol dalam satu atau lebih

bidang studi. (6) Dapat mencari pemecaha(7) Mempunyai rasa humor. (8) Mempunyai daya

imaginasi (misalnya memikirkan hal-hal baru dan tidak biasa). (9) Mampu mengajukan

pemikiran, gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain. (10) Kelancaran dalam

meng hasilkan bermacam-macam gagasan. (11) Mampu menghadapi masalah dari berbagai

sudut pandang (Reni AH, 2001: 5).

Ciri-ciri kepribadian kreatif, diantaranya:

1) Mempunyai daya imajinasi yang kuat

2) Mempunyai inisiatif

3) Mempunyai minat yang luas

4) Mempunyai kebebasan dalam berpikir

5) Bersifat ingin tahu

6) Selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru

7) Mempunyai kepercayaan diri yang kuat

8) Penuh semangat

9) Berani mengambil resiko

10) Berani mengemukakan pendapat dan memiliki keyakiknan (Munandar, 2004: 97).

Walaupun ada perbedaan cara pengungkapan pendapat para ahli tersebut di atas

namun pada prinsipnya tidak jauh berbeda. Dari beberapa pendapat tersebut pada prinsipnya

bahwa ciri-ciri perilaku yang ditemukan pada orang-orang yang memberikan sumbangan

kreatif yang menonjol adalah berani dalam pendirian/keyakinan, ingin tahu yang besar,

mandiri dalam berpikir, ulet, dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat. Perilaku atau cirri- ciri kepribadian krearif tersebut di atas sangat diinginkan oleh pendidik terhadap para siswa

dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan prestasi belajar dan mencapai tujuan

pembelajaran.

Proses Kreatif

Melalui pro ses kreatif yang berlangsung dalam benak orang atau sekelompok orang,

produk kreatif tercipta. Produk itu sendiri sangat beragam, mulai dari penemuan mekanis,

proses kimia baru, solusi baru atau pernyataan baru mengenai sesuatu masalah dalam

matematika dan ilmu pengetahuan; komposisi musik yang segar, puisi cerita pendek atau

novel yang menggugah yang belum pernah ditulis sebelumnya; lukisan dengan sudut

pandang yang baru; seni patung atau fotografi yang belum ada sebelumnya; sampai dengan

terobosan dalam aturan hukum agama, pandangan filsafat, atau pola perilaku baru (Desmita,

2006: 176). Dalam semua bentuk produk kreatif, selalu ada sifat dasar yang sama, yaitu

keberadaannya yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Sifat baru itulah yang

menandai produk atau

proses kreatif adalah:

1). Produk yang sifatnya baru sama sekali yang sebelumnya belum ada

Dalam semua bentuk produk kreatif, selalu ada sifat dasar yang sama, yaitu

keberadaannya yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Sifat baru itulah yang

menandai produk atau proses kreatif Menurut Nashori & Mucharam (2002: 95)

2). Sifat-sifat baru yang merupakan ciri produk dan proses kreatif adalah: Produk yang

memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada sebelumnya.

3). Suatu produk yang bersifat baru sebagai hasil pembaharuan (inovasi) dan pengembangan

(evolusi) dari hal yang sudah ada.

Hakikat IPA

Pengertian IPA

Sains merupakan suatu kebutuhan yang dicari manusia karena memberikan suatu cara

berpikir sebagai suatu struktur pengetahuan yang utuh. Secara khusus, sains menggunakan

suatu pendekatan empiris untuk mencari penjelasan alami tentang fenomena yang diamati di

alam semesta.

Kata sains berasal dari kata latin scientia yang berarti “saya tahu”. IPA merupakan

singkatan dari Ilmu Pengetahuan Alam yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu

“Natural Science atau Science”. Natural artinya alamiah, berhubungan dengan alam atau

sangkut paut dengan alam. Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi, IPA secara harafiah dapat

disebut sebagai ilmu tentang alam ini, ilmu yang mempelajari peristiwa yang terjadi di alam

(Srini M. Iskandar, 1997: 2).

Menurut Bachtiar Rifai menyatakan bahwa sains didefinisikan sebagai pengetahuan

sistematis tentang interaksi sebab dan akibat (Bachtiar Rifai dalam Uswatun Khasanah, 2007:

19).

Menurut Hidayat dan Sutrisna menyatakan bahwa sains adalah upaya untuk mencari

pengetahuan untuk memahami fenomena alam atau mencoba menerangkan fenomena alam

(Hidayat dan Sutrisna dalam Uswatun Khasanah, 2007: 19). Dalam sains dicari jawaban

terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mendasar yang mungkin kemudian hari dapat

ditetapkan pada kegunaan praktis. Sedangkan menurut Gill menyatakan bahwa sains adalah

sekumpulan nilai-nilai dan prinsip yang dapat menjadi petunjuk pengembangan kurikulum

dalam sains (Gill dalam Galib, 2003: 3).

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa IPA adalah upaya untuk

mencari pengetahuan untuk memahami fenomena alam atau mencoba menerangkan

fenomena alam dan merupakan pengetahuan sistematis tentang interaksi sebab dan akibat.

Pembelajaran IPA

Adapun tujuan utama pengajaran sains di sekolah menurut Depdikbud adalah:

a. Memahami konsep sains dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

b. Memiliki keterampilan proses sains untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang

alam sekitar.

c. Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerja sama,

dan mandiri.

d. Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di

lingkungan sekitar.

e. Mampu menerapkan berbagai konsep sains untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan

memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.

f. Mempu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk memecahkan masalah- masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

g. Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alams sekitar, sehingga menyadari kebesaran

dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa (Depdikbud dalam Uswatun Khasanah, 2007: 21)

Pada awal perkembangannya dimana sains didefinisikan sebagai kumpulan konsep,

maka metode pengajaran sains yang dilakukan adalah dengan memberi penekanan pada

penguasaan konsep-konsep yang telah ada. Pengajaran ini bersifat tradisional karena pada

pelaksanaannya berdasarkan buku teks. Pada penerapannya materi pelajaran dibagi secara

diskrit dan diorganisasikan ke dalam topik-topik yang sempit serta sedikit usaha untuk

menghubungkan antar topik.

Menurut Mackinnu pengajaran sains selama ini masih memiliki banyak kelemahan

antara lain:

a. Kurikulum dan pengajaran sains yang diterapkan saat ini merupakan pengajaran yang

berorientasi pada disiplin ilmu. Implikasinya materi yang diajarkan kepada siswa sifatnya

seringkali menjadi lebih abstrak dan jauh dari pengalaman siswa.

Materi yang diajarkan siswa pada dasarnya merupakan materi yang dipersiapkan untuk

mengikuti pelajaran

b. pada tahap berikutnya. Konsekuensi dari hal ini adalah timbulnya kerugian bagi para

siswa yang tidak mengikuti salah satu tahap tersebut (dalam arti tidak meneruskan ke

jenjang yang lebih tinggi lagi).

c. Metode pengajaran pada umumnya menggunakan ceramah dan kadangkala disertai

dengan percobaan verifikasi laboratorium yang sudah jadi. Akibatnyasiswa menjadi pasif

dan sulit untuk berkembang apalagi sampai pada tingkat mental dan emosionalnya.

d. Minimnya keterkaitan antara konsep dan teori dengan aplikasi dan pengalaman dalam

kehidupan sehari-hari.

e. Kurikulum dan pengajaran yang ada sangat terkotak-kotak dan tersekat satu sama lainnya.

Hal ini menyebabkan cara berpikir siswa menjadi terkotak-kotak pula (Mackinnu dalam

Rusmansyah dan Irhasyuarna, 2003: 98).

Sains dan pengajaran sains di Indonesia dapat dikatakan merupakan transplantasi dari

pendidikan barat. Karena merupakan transplantasi, proses pertumbuhannya sering menemui

kendala yang bertautan dengan budaya dan kebiasaan setempat, local dan regional. Sikap

yang seharusnya berkembang bersama dengan bertumbuhnya pertanyaan mengenai kegunaan

sains bagi kehidupan dan sosial belum sepenuhnya terimbas.

Pada pengajaran sains saat ini mempunyai tujuan menciptakan warga negara yang

dapat mengerti sains dalam multidimensi dan multidisiplin. Penguasaan ini akan membuat

mereka dapat berprestasi mengimbangkan intelegensi siswa dengan berpikir kritis, berusaha

memecahkan masalah dan membuat keputusan tentang bagaimana sains dan teknologi

diguanakan untuk mengubah masyarakat. Pengajaran yang lengkap hendaknya melibatkan

pengajaran sains, teknologi dan kultur masyarakat. Pengajaran yang merangkum komponen- komponen tersebut telah berkembang pada tahun 1980-an dalam suatu pendekatan yang

disebut Science Technology Society (STS) atau dikenal pula sebagai Sains Teknologi

Masyarakat (STM).

Hakikat Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat

Pengajaran IPA di SD selalu mengalami kemajuan sesuai dengan perkembangan

jaman. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk meningkatkan kualitas IPA secara optimal.

Perkembangan IPA terutama dari segi metode yang diterapkan pada proses pengajaran IPA

telah mengalami beberapa perkembangan sesuai dengan perkembangan jaman dan

disesuaikan dengan lingkungan kehidupan sehari-hari serta keterampilan maupun

kemampuan siswa.

Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan istilah yang diterjemahkan dari

bahasa Inggris “science technology society”, yang pada awalnya dikemukakan oleh John

Ziman dalam bukunya Teaching and Learning about Science and Society. Pembelajaran

science technology society berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains

dan masyarakat (John Ziman dalam Anna Poedjiadi, 2007: 99). Iskandar juga menyampaikan

bahwa STM merupakan pendekatanterpadu antara sains, teknologi, dan isu yang ada di

masyarakat (Iskandar dalam Hidayati, Mujinem dan Anwar Senen, 2008: 6-29).

Menurut Rusmansyah & Yudha Irhasyuarna, STM adalah suatu pendekatan yang

mencakup seluruh aspek pendidikan yaitu tujuan, masalah yang akan dieksplorasi, strategi

pembelajaran, evaluasi, dan persiapan guru. Pendekatan ini melibatkan siswa dalam

menentukan prosedur pelaksanaan, pencarian informasi, dan dalam evaluasi (Rusmansyah &

Yudha Irhasyuarna, 2003: 99). Tujuan utama pendekatan STM ini adalah untuk

menghasilkan lulusan yang cukup mempunyai bekal pengetahuan sehingga mampu

mengambil keputusan penting tentang masalah dalam masyarakat (NSTA Report dalam

Rusmansyah & Yudha Irhasyuarna, 2003: 99).

Apabila ditinjau dari tuntutan kurikulum 2004, penerapan STM dalam pembelajaran

dapat mengembangkan keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Adapun keenam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s