Itu khan lukisan wajahku…


Boleh jadi aku dibilang kege’eran atau apalah… Tapi, aku yakin banget profil wajah yang dijadikan model dari puisi yang dipajang di majalah dinding itu adalah profil wajahku… Coba lihat saja dari model rambut sampai tatapan matanya juga sama. Tatapan mata yang selalu terkesan ngantuk atau bahasa halusnya sayu, itu khan jelas-jelas milikku… Hati Puspita diam-diam menggelembung terlebih saat matanya tertumpu pada goresan nama sang empunya puisi yang ada lukisan wajahnya itu.. Andika… wuiss, jadi….???

Puspita segera ingat pada kejadian di kelasnya beberapa hari yang lewat, saat itu kelas berisiknya minta ampun persis pasar malam pas malam takbiran. Biasa pelajarannya Pak Tarigan, guru asal Medan yang terkenal paling sabodo sama tingkah murid-muridnya. Baginya yang terpenting adalah menyampaikan materi pelajarannya hari itu dengan tuntas, kalau karena kebengalan mereka murid-muridnya tidak tahu atau tidak menguasai materi yang diajarkannya hari itu. Ya, salah mereka sendiri… Mungkin begitu prinsip beliau…

Kejadian yang seperti itu sudah terlalu biasa, jadi jelas bukan Pak Tarigan, Akuntansi atau kelas yang seperti pasar malam yang membekas dalam ingatanku. Ada kejadian lain yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa, dan itu terjadi saat tanpa sengaja Puspita menangkap sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang belum pernah dilihat seumur hidup di kelasnya tercinta itu…

Aneh… padahal kita sudah hampir 3 tahun sekelas, kenapa baru hari ini Puspita menyadari kalau Andi punya sepasang mata yang lembut namun tajam menghujam hingga mampu membuat hatinya gelisah dan salah tingkah begini… “Puspita…!” Entah berapa kali Pak Tarigan meneriakan namaku sampai sahabatku Ecie mencolekku “Hei, Pus… Suruh maju tuh…!” Busyet mati kutu banget deh aku… “Eh eh… saya pak?” tanyaku memastikan sambil berusaha mengusir kegelisahanku. “Iya, kamu…!” kata Pak Tarigan dengan dialek Medannya yang khas… Dengan langkah lemas aku maju ke depan kelas.

“Kamu kerjakan yang ini…” Pak Tarigan langsung menyodorkan buku dihadapannya, masih dengan gugup dan tangan yang terasa dingin aku menerima buku dan membaca soal yang ada didalamnya. Duuhh, musti bisa nih, malunya kalau sampai ketahuan bego. Sama siapa lagi, kalau bukan sama si pemilik sepasang mata yang baru saja membuat jantungnya jadi berdebar-debar… Si Andi… Untung saja otakku lumayan encer, dan soal yang diberikan Pak Tarigan pun sudah sering diulangkan. Jadi selamat…… sukses terbebas dari ketiban rasa malu…, lalu bisa membalikan badan ke arah kursiku dengan hati yang plong, terlebih plong lagi saat mataku sekali bertemu dengan seyum manis Andi…

“Cie… loe tadi perhatiin ngga puisi yang ada lukisan muka cewenya?” Tanyaku mencoba mengorek pendapat Ecie. “Yang mana…?!” “Itu lohh, puisi yang tadi ada di mading… yang dibikin sama si Andi…” kataku lagi mengajak Ecie untuk mengingat… Sejenak wajah Ecie mengerut… “Okhhh… itu, ya guwe inget kenapa? Tapi guwe yakin itu bukan dia yang bikin, paling-paling dia nyuruh orang untuk buat puisi sama lukisan itu…” Kata Ecie santai. “Masa si… Cie?” tanyaku dengan perasaan kecewa. “Ya iyalah… Andi bangor gitu, aneh aja kalo dia bisa bikin puisi sama lukisan secakep itu…” Lanjut Ecie dengan amat lancar. Kalimat Ecie makin membuat hatiku menciut.

Kalau diingat-ingat lagi, apa yang dikatakan Ecie memang tidak ada yang salah. Selama hampir 3 tahun sekelas dengan Andi aku juga tahu bagaimana reputasinya. Biang ribut, tukang bolos, slenge, dan dia demennya itu sama olah raga, terutama volly sama basket… bukan bikin puisi atau melukis kaya yang ada di mading tadi. Terus ngapain juga dia repot-repot naruh puisi disitu Apa alasan, apa maksudnya dan buat siapa isi dalam puisi itu ditujukan. Mengingat kalimatnya yang berisi soal jatuh cinta. “Yaelah Pus… buat Sintalah, emang elo belum denger kalo Si Andi tuh udah lama naksir sama Santi?” Ucapan Ecie kembali mengaung dibenaknya.

Akh… Tapi Santi juga bukan tipe cewe yang suka dengan hal yang berbau-bau puisi, dia itu lebih tertarik sama masalah mode, gaya rambut, sepatu, tas dan shoping ke mal baru dia minat. Kalau yang seneng sama nulis menulis, puisi, cerpen ya cuma aku. Makanya hampir tiap minggu pasti ada tulisanku yang nangkring di Mading sekolah, lagi pula kalau memang bukan Andi yang bikin puisi masih bolehlah.. tapi lukisan itu. Itu jelas-jelas lukisan wajahku, sebagai pemiliknya aku tentu saja amat mengenal setiap guratan dan detail dari wajahku sendiri… Terus Andi minta tolong siapa,kalau minta tolong tentu dia harus memiliki fotoku. Sedangkan selama ini aku ngga pernah akrab dengannya…

Begitulah aku terus memikirkan hal itu. Sampai tidak menyadari kalau tinggal menghitung jari saja keberadaanku dan teman-teman di Sekolah itu. Karena sebentar lagi kan UN… diam-diam ada perasaan sedih kalau harus membayangkan akan segera meninggalkan sekolah ini, pisah dengan teman-teman dan tidak bisa melihat atau ketemu Andi lagi. Padahal pertanyaanku belum terjawab, padahal hatiku lagi berbunga-bunganya… Duh….kenapa musti telat begini…

Siang itu selepas memberi cap jempol pada Ijazah aku mengajak Ecie sahabatku menuju ke ruang OSIS, sekolah sudah sepi karena sebagian siswa ada yang langsung pulang begitu selesai membubuhkan cap jempol. “Ada apa si Pus..” “Udah elo ikut guwe aja, ntar juga elo tahu…” lalu dengan langkah bergegas aku menarik tangan Ecie biar bisa mengikuti irama langkahku. “Nin… tulisan-tulisan yang ada di Mading udah kamu ambil semua ya…?” tanyaku cepat begitu sampai dihadapan Nina. Sekretaris Osis kami. “Iya tuh… masih ditumpuk di mejanya Upay…” Mata Nina mengarah ke meja tempat Upay biasa duduk.

Kedua mataku pun dengan cepat mengarah dan menemukan benda yang sedang dicarinya. Iya… lukisan dan puisi milik Andi…. Untuk sedetik jatungku kembali berdebar. “Nin….” Nina menoleh “Apa Pus, kok kamu keliatannya gelisah amat?” Nina menatapku dengan tatapan bingung. “Akhh ga…, aku cuma mau bilang kalau aku… aku mau…” “Mau apa Pus?” “Mau…boleh ngga kalau… aku…” Mataku segera tertuju pada lukisan dan puisi milik Andi, yang begitu menggoda, dan memanggil hasratku untuk memilikinya sebagai kenang-kenangan. “Apaan si Pus…?!” pertanyaan Nina begitu cepat dan mengagetkanku. “Boleh ga kalu aku mau ambil puisi2 milikku…….” Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibirku.

“Duhhh, Pus… Pus.. mo nanya gitu aja kok lama banget, ya bolehlah.. Udah itu kamu ambil sendiri ya?” kata Nina ringan sambil meneruskan kegiatannya… Satu lagi kesempatan pikirku, Nina kelihatannya tidak begitu memperhatikan barang-barang yang ada di meja Upay. Berarti kalau kalau hanya kehilangan satu tulisan saja pasti dia tidak akan ngeh… Kembali, lukisan dan puisi milik Andi melambai-lambai dan menggodaku untuk kuraih. Tapi… Ecie? Ecie, kenapa malah jadi sibuk mengikutiku… Dan rasa malu mengalahkan niatku untuk meraih kertas itu… Aku takut dan malu, kalau Ecie sampai tahu apa yang ada di hatiku…Kalau aku jatuh cinta pada pemilik lukisan dan puisi yang membuatku jadi pura-pura penting untuk mengambil tulisan2ku…

Apa kata Ecie, kalau sampai dia mengetahui isi hatiku yang sebenarnya… Maluuuuuuu… Kenapa Musti malu Pus, toch besok kamu udah ga ketemu Ecie lagi… Hatiku berbisik penuh sesal, sesaat setelah meninggalkan ruang Osis… Padahal kalau tidak aku ambil, paling-paling nasib kertas itu cuma akan jadi penghuni gudang sekolah… Sebaliknya benda itu begitu berharga, padahal aku sampai bertahun-tahun masih terus mengingatnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s