HIKMAH…


Sudah hampir 1 minggu Mimin menunggui suaminya Momon yang terbaring lemah, di suatu rumah sakit. Pangkal penyebabnya, yaa karena Momon suaminya sakit, diagnosa awal Momon terserang gelaja paru” basah, atau  penyakit yang berhubungan dengan organ pernafasannya.

Belum seminggu, tapi tubuh Momon yang memang kurus makin bertambah kurus saja, wajahnya pucat, pipinya kian tirus, sepasang matanya pun seperti tanpa cahaya.

Melihat semua itu hati Mimin tentu saja sedih, apalagi tiap kali melihat betapa sulit dan beratnya tiap kali dia mengambil nafas yang disertai suara batuknya yang tak henti”nya terdengar. Mimin bisa merasakan sakit yang dirasakan dada Momon, Mimin bisa merasakan sesak yang dialami oleh Momon suaminya…

Namun apa daya dia tak mampu berbuat apa”. Dalam hatinya ada sebongkah sesal.. mengapa selama ini Momon tak pernah mau mendengar kata”nya, walau sepatah juga. Andai saja dia sedikit saja peduli, tentu Momon tak perlu lama” berbaring disini. Tapi semua itu sudah terlambat untuk disesali atau di ingat” kembali.

SILAHKAN SIMAK KELANJUTANNYA…Dalam hati Mimin juga tak kan meng’ungkit”nya lagi.  Pada kenyataannya, kini Momon suami tengah terbaring sakit. Tak ada pilihan terbaik selain mendampingi dan merawatnya hingga pulih kembali. Ya, Mimin ingin Momon cepat sembuh, terlebih karena memang Mimin amat mencintai Momon dan tak ingin kehilangan Momon.. karenanya dengan tulus dan sepenuh hati Mimin menunggui dan menjaga suaminya Momon…

Malam itu adalah hari ke 9 Momon di rawat di rumah sakit, kondisinya kini sudah jauh lebih baik, batuknya sudah hilang, nafasnya pun sudah tak terlalu sesak lagi.. Syukurlah, segalanya belum terlambat dan terlalu parah.  Malam itu entah karena memang sudah merasa sehat atau karena sudah terlalu banyak tertidur dan istirahat, Momon jadi sulit memejamkan mata.

Karena bosan, akhirnya Momon turun dari bangsal perawatan, sejak kemarin tubuhnya memang sudah tak pasangi alat infus dan alat yang entah apa namanya, yang digunakan untuk mengeluarkn cairan dari dalam paru”nya. Karenanya sekarang dia bisa bergerak dengan lebih leluasa.

Malam memang sudah amatlah larut, kebetulan pula tak ada suster yang juga di dekat” ruangannya, kebetulan pula Momon memang sangat haus, sementara air mineral yg biasa disediakan Mimin juga sudah habis diminumnya. Maka melangkahlah Momon keluar dari ruang perawatan.

Dia akan pakai alasan ingin cari minum kalau nanti bertemu perawat. Tapi Momon tak bertemu secuil pun perawat malam itu. Sebaliknya, di suatu sudut ruang yg sedikit terbuka, yang sediakan pihak rumah sakit untuk anggota keluarga pasien yang ingin menginap atau hanya sekedar menunggu saja.

Disitulah Momon melihat Mimin istrinya, tertidur hanya bersandar pada sudut tembok ruang itu. Melihat Mimin ada di ruangan itu, Momon segera menghampirinya, dan bermaksud untuk membangunkannya…

Namun niat itu segera diurungkan, saat melihat begitu terlelap dan pulasnya Mimin tertidur… Terlihat jelas sisa kelelahan di wajahnya.. Mimin.. Aku pikir kamu pulang, aku pikir.. Huh! Momon menyesal sekali, terlebih saat mengetahui, bukan baru malam ini saja istrinya meringkuk dan tertidur di ruangan itu, tapi selama dia dirawat di rumah sakit itu.

Tak bisa dibayangkan betapa menyesal dan sedih hati Momon, karena selama ini dia merasa tak pernah begitu perhatian pada Mimin, apa yang dilakukan Mimin selalu dinilai memang sudah sewajarnya istri musti berbakti mengabdi pada suami.

Tapi coba lihat, Mimin begitu tulus dia tak pernah banyak mengeluh.. dan malam itu dia melihat sendiri ketulusan yang telah diberikan Mimin kepada dirinya..

Dia melihat istri meringkuk pulas di ruang terbuka ber hari” tanpa alas, tanpa sepotong selimut pun.. kedinginan.. sendirian.. Perlahan diusap rambut istrinya, dan tanpa disadari jatuh tetes bening dari matanya, tepat di wajah Mimin. Merasa ada yang menyentuh dan ada tetes yang jatuh di wajahnya.

Mimin pun terjaga, dan terkejut “Mas Momon, kenapa ada disini..!?” tanya Mimin panik.. “Aku …” “Mas Momon haus ya..? maaf tadi Mimin lupa beli, maaf  juga karena Mimin ga bilang kalo malam ini, Mimin ga pulang dan sengaja tidur disini.. ga pa pa kan Mas?”

“Mimin…” Momon tak kuasa lagi menahan perasaannya. Diraihnya tubuh Mimin kedalam pelukannya. “Mimin.. maafkan aku ya.?” Ditatapnya dua bola mata Mimin yang diliputi kebingungan.. Melihat itu Momon pun terseyum.. diam2 dalamn hatinya dia berjanji, untuk berhenti merokok, begadang dan.. mulai hari ini dia akan lebih memperhatikan Mimin..

Mungkin ini hikmah dari sakit yang dialaminya. Supaya dia lebih menghargai dan mengetahui arti sehat serta bagaimana menjalani hidup dengan sehat dan satu lagi kesadaran memiliki seorang istri yang begitu mengasihi dan mencintainya, namanya Mimin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s