Kenapa Memilih Mas dan Mbak?


Pernahkah Anda memperhatikan bahwa selama ini tanpa Anda sadari,  telah memilih kedua sebutan tadi sebagai sapaan. Baik  pada orang yang sudah Anda kenal atau yang baru Anda kenal.

Bukan hanya dalam percakapan dengan mereka yang berasal dari suku Jawa saja, dengan suku lain yang ada di Indonesia pun demikian.

Sebagia contoh misalnya, dalam talk show di televisi salah satu pembawa acara menambahkan sebutan ‘Mbak’  pada artis Meriam Bellina, “Mbak’ pada Angelina Sondakh dan ‘Mas’ pada Tantowi Yahya atau Helmi Yahya. Walau pun kita tahu, mereka yang saya sebut tadi bukan berasal dari kultur Jawa.

Jadi balik pada pertanyaan saya tadi kenapa Mas dan Mbak jadi pilihan kata sebutan atau panggilan favorit dihampir lapisan masyarakat kita ini?

Padahal menurut sebagian orang panggilan itu sama sekali ngga bergengsi, ndeso, njawir, katrok, norak, kampungan identik sama mas-mas tukang bakso,  mbak-mbak bakul jamu. Dah pokoknya kalah gengsilah dengan panggilan kakak, Aa, Teteh, Abang, Eneng ….  apalagi ya??

Nah bingung khan?

Kalau menurut saya mungkin karena penambahan panggilan Mas dan Mbak secara bahasa seperti tidak mengenal kasta, universal jadi bisa berlaku disegala tingkatkan masyarakat.

Mulai dari mereka yang memiliki latar pendidikan dan status ekonomi tinggi, sampai pada mereka yang tergolong pada kelas menengah hingga level yang paling bawah…

Bagaimana apakah Anda setuju dengan pendapat saya ini?  Dan masihkah Anda risi dengan panggilan atau sebutan Mas atau Mbak  pada  depan nama Anda?

Oke, daripada bingung bagaimana kalau kita makan bakso terus habis itu minum jamu? “Mas baksonya mas,  mu jamu, jamunya Mbak…..”🙂

8 pemikiran pada “Kenapa Memilih Mas dan Mbak?

  1. mungkin karena alasannya adalah terjadinya imperialisme bahasa .. salah satunya tercermin dalam kultur sapaan itu. di kota-kota besar kan banyaknya orang jawa sehingga terbawalah kultur jawa itu ke dalam kehidupan sehari-hari. ditambah lagi orang-orang berpengaruh di negeri ini kan banyakan orang jawa plus orang jawa itu di indonesia ada sekitar 42 %. wajarlah kalo kultur sapaan mas/mbak itu lebih menyebar ketimbang akang/teteh atau uda/uni. itu dianggap sebutan paling wajar, lumrah dibanding sebutan lain. fenomena itu banyak terjadi di kota-kota besar yang masyarakatnya punya rasa toleransi yang besar. karena kalau kamu ke daerah-daerah yang bukan kultur jawa dan kamu sapa mas/mbak mereka kurang suka juga karena mereka ga mengenal kultur sapaan itu.

    Suka

    1. coment km boleh juga ni, menarik n masuk di akal… tp mungkin hanya bbrapa daerah saja yg ga mengenal sapaan mas dan mbak, mungkin hanya di Irian Jaya atau daerah pelosok atau yg blm tersentuh oleh suku jawa… utamanya yg tdk termasuk dalam daftar daerah transmigrasi, karena transmigrasi dan keberadaan suku jawa di wilayah tsb juga ikut mempengaruhi penyebaran sapaan mbak n mas… betul tidak?😀 makasih ya mamase dah mampir gabung dunk?

      Suka

  2. gimana caranya emang kalau mau gabung?
    iyah itu juga berdasarkan pengalaman pribadi hahaha dan kebetulan gue kuliah jurusan bahasa hehe..
    waktu gue pulang ke Serang, gue bingung kok orang-orang pada manggil mas-mas.. dan mbak gitu (terutama di daerah kota) karena panggilan khas Serang kan aa/kang dan teteh.. jadi kerasa banget pengaruh budaya luarnya tapi kalo ke desa saya ga sopan manggil mas dan mbak.. orang desa ajah sok-sok kota gitu (hahaha) jadi lebih baik pake panggilan yang sesuai dengan budaya tempatnya ajah.. salah-salah kayak gue dulu ditegor tukang ojek karena manggil mas.. harusnya saya manggil kang/mang.. saya lumayan belajar dari pengalam itu bahwa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung..
    tapi secara umum kalo di jakarta yah saya manggilnya mas/mbak..

    Suka

    1. cukup dengan kamu sering2 mampir di blogq aja kok…🙂

      emang betul teman… dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.. tp begitulah bahasa, khususnya bahasa Indonesia begitu kayanya… sampai2 sapaan untuk subyek dan obyek pun memiliki beragam sebutan, baik itu yang dipengaruhi oleh budaya yang ada di Indonesia itu sendiri mau pun yang berasal luar Indonesia, contohnya ane, ente.. brot, sist,,, btw semua no problem yang penting masih bisa sama2 dimengerti (komunikatif) dan masih santun untuk didengar… okee man…..

      Suka

  3. gw paling paling nyaman kalo ngomong pake gue-elo… hehe..
    btw.. komentar tulisan lo yang di atas.. kalo dibilang favorit ga juga kali yah.. yang paling familiar mungkin iyah.. coz gw sendiri merasa kurang sreg dipanggil mbak apalagi di daerah gw sendiri hehehe..
    di kota besar kayak jakarta sih ok e apalagi daerah jawa.. kalo daerah jabar-banten gw dipanggil mbak sih gw ogah juga..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s