Jadi Peminta-minta Ternyata Tidak Mudah Lohhh…


Hampir setiap kali aku mengujungi kantor pos aku pasti selalu disambut oleh seyum ramah mereka yang berdiri di depan pintu masuk kantor pos. Lalu dengan cekatan tangan mereka mengulurkan sebuah amplop putih yang bertuliskan sumbangan untuk anak yatim piatu atau untuk pembangunan mesjid. Dan kami aku dan yang lain-lainnya dengan tidak keberatan menerima amplop itu. Sungguh cara yang cerdas dan lebih terhormat dari pada meminta-minta dipinggir jalan pikirku.

Begitu pula dengan penampilan,  pakaian yang rapih dan bersih, wajah mereka pun terlihat lebih terpelajar tidak kumuh. Tidak seperti atribut yang dipakai oleh peminta-minta di jalanan atau di rumah-rumah. Lebih dari itu mereka juga tak perlu banyak mengeluarkan kalimat-kalimat memelas, cukup hanya dengan mengucapkan salam dan seyum ramah, selebihnya tulisan yang terdapat diamploplah yang bekerja. Sederhana sekali bukan?

Melihat kejadian yang berulang terus menerus seperti itu aku jadi tertarik untuk mencobanya. Karena kupikir cari uang kok gampang banget ya,,,?! Seperti tadi itu, terseyum, kasih amplop lalu tunggu… Yah karena begitu keluar dari kantor pos pengunjung dengan sendirinya pasti akan mengembalikan amplop-amplop tadi.

Maka berbekal amplop yang sudah ku copy dari amplop yang pernah kuterima dan tak kukembalikan pada mereka. Aku mulailah petualanganku ini. Hari itu kira-kira pukul 8 pagi aku sudah stand by di depan sebuah kantor pos, sama seperti mereka, terseyum lalu membagikan amplop pada setiap pengunjung yang datang…

Satu jam, dua jam… Aku mulai diserang rasa jenuh, tiga jam empat jam, uuuhhh kakiku mulai pegal, gigiku rasanya mulai kering karena kebanyakan seyum. Akhirnya tepat di jam yang ke lima atau tepatnya pukul 13 siang aku putuskan untuk mengakahiri petualangan ini. Capeknya bo…. Belum lagi rasa malu yang tetap saja ada, karena bagaimana pun ini kan pekerjaan meminta-minta juga namanya, walaupun dilakukan dengan cara yang berbeda. Karenanya detik itu juga kuputuskan untuk segera pulang ke rumah.

Sorenya baru aku membuka tasku dan mengeluarkan amplop-amplop yang tadi kubagikan. Hmmm…. kira-kira aku dapat berapa ya? Kalau banyak lumayan juga untuk mengobati pegel-pegel dan gigi keringku tadi. Satu persatu-satu amplop mulai kubuka… Amplop pertama kosong…, amplop kedua kosong…, amplop ketiga kosong… begitu terus sampai dengan amplop terakhir… Kali ini ada isinya selembar uang bertuliskan seribu rupiah… !

Hahh… jadi cuma segini hasil dari petualanganku hari ini. Dalam hati ada rasa sesal, kok cuma segini ya… Padahal sudah malu… capek, haus juga…  Untung ini cuma keisenganku saja, coba kalau profesi. Kecewanya mungkin berlipat-lipat dari yang kurasakan saat ini.

Nah, dari pengalaman itu aku jadi bisa menarik satu pelajaran sekaligus kesimpulan. Kalau jadi peminta-minta juga bukan pekerjaan mudah. Perlu kesabaran, keuletan, ketekunan, dan kekuatan mental… Jadi salah besar anggapan yang sudah kita berikan kepada mereka selama ini. Jadi peminta-minta itu ternyata tidak mudah lohhh… Heheheheh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s