Apa Obsesi Terbesar dalam Hidupmu???…


jembatan

Suatu hari aku menemukan suatu kisah yang menurutku cukup menarik untuk dijadikan bahan renungan untuk kita semua. Boleh aku bercerita? Oke, kalau begitu….

Kisahnya begini, di sebuah desa tinggallah 3 orang pemuda sebut saja nama mereka, Abdullah, Suleman dan Yusuf. Mereka bersahabat sejak mereka masih kecil hingga sampai akhirnya mereka dewasa. Tapi demi untuk meraih masa depan yang lebih baik, mereka pun harus berpisah, Abdullah, Sulaeman, dan Yusuf mereka sama mengadu peruntungan di kota yang berbeda, mereka hanya bertemu setahun sekali yaitu pada saat merayakan I’edul Fitri.

Tahun Pertama pada saat mereka bertemu, Abdullah, Sulaeman dan Yusuf mulai menujukan hasil dan jerih payahnya selama setahun merantau di kota mereka masing-masing. Abdullah mampu membeli beberapa hewan ternak, pun sahabatnya Sulaeman dan Yusuf mereka juga membeli sebidang tanah sawah dan kebun.

Begitu terjadi tahun demi tahun, sampai akhirnya Sulaeman dan Yusuf memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, karena sawah dan kebun yang mereka miliki telah lumayan luas dan hasilnya pun lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Namun tidak demikian dengan Abdullah, dia belum memutuskan utuk kembali kekampunya, karena ternyata ternak-ternak yang dibeli dan dititipkan untuk dipelihara oleh orang lain belum menunjukan hasil yang bagus.

Abdullah sempat berpikir untuk merubah inves pengahasilannya ke bidang lain, tapi dia ragu karena itu berarti harus memulai dari nol lagi. Dan itu berarti dia akan makin ketinggalan dari kedua orang teman-temannya. Jadi walau dengan separuh hati dia memutuskan untuk tetap melanjutkan usaha peternakannya.

Begitulah tahun berganti tahun, mereka bertiga masih terus bertemu. Dan tanpa mereka sadari, ternyata selama ini mereka bersaing  untuk menjadi yang orang yang paling sukses. Dan saling berobesesi menjadi yang terbaik diantara mereka bertiga.Itu terbukti dengan ajang pamer yang selalu mereka pertontonkan tiap kali mereka bertemu.

Dan sepertinya Abdullah memang telah ketinggalan jauh dari kedua temannya, karena Sulaeman dan Yusuf pada saat ini tidak saja memiliki sawah dan kebun yang luas tapi mereka juga telah membangun sebuah rumah yang indah. Sementara Abdullah tetap berkutet dengan ternak-ternaknya yang tidak juga membuahkan hasil yang memuaskan.

Melihat kenyataan itu timbul rasa kesal di hati Abdullah, akhirnya dia memutuskan untuk menjual semua ternak yang dimiliki kepada kedua sahabatnya. Tawaran itu pun diterima dengan senang hati oleh kedua sahabatnya itu. Dan sejak itu entah mengapa Abdullah tak pernah kembali ke kampung halamannya.

Sebenarnya apa yang terjadi pada diri Abdullah? Boleh jadi dia merasa putus asa, merasa gagal, merasa tertinggal dan sebagainya. Dugaan itu ternyata salah, boleh jadi Abdullah memang merasa gagal dan tertinggal, tapi tidak putus asa. Kenyataan pahit itu justru malah makin memacu obsesinya untuk bisa meraih apa yang sudah bisa diraih oleh kedua sahabatnya itu.

Dari hasil menjual ternak dan tabungannya selama bekerja di kota dia mulai membuka usaha kecil-kecilan sendiri. Dan karena ketekunan dan semangat yang tinggi akhirnya usahanya pun kian berkembang dengan pesatnya. Hingga memiliki cabang diberbagai tempat dan tentu saja dia pun kini mampu menggaji dan memiliki banyak karyawan.

Namun begitu dia tidak mampu melupakan obesesinya semula, yaitu kembali ke kampung halamannya, memiliki sawah yang luas dan rumah yang megah seperti kedua orang temannya. Maka begitu tabungannya dirasa lebih dari cukup untuk memenuhi impiannya itu, Abdullah pun memutuskan untuk kembali ke kampung. Tanpa sempat memikirkan bagaimana nasib karyawan-karyawannya jika mereka harus kehilangan pekerjaan, tanpa sempat memikirkan bagaimana dengan susah payah dia telah merintis usahanya hingga jadi sebesar dan sesukses ini.Pada saat itu keingginan hanya satu, ingin bisa membuktikan bahwa dia juga mampu mensejajarkan statusnya dengan ke dua orang sahabatnya dan menebus kekalahannya selama ini.

Singkat cerita, sampailah Abdullah di kampung halamannya dan tak sabar untuk segera bertemu dengan ke dua orang sahabatnya itu. Tentu saja keinginan itu dengan mudah bisa segera terpenuhi. Sulaeman dan Yusuf yang sudah lama tak bertemu tentu saja rindu pada Abdullah, dengan tulus keduanya pun mengundang Abdullah untuk bertandang ke rumah mereka masing-masing.

Dengan senang hati Abdullah memenuhi undangan mereka berdua, karena hatinya penasaran dan ingin tahu kemajuan apalagi yang telah dicapai oleh kedua sahabatnya ini. Kunjungan pertama dia arahkan ke rumah sahabatnya Sulaeman, dia mendapati kenyataan rumah Sulaeman yang kian megah, sawah yang kian luas dan subur dan ternak-ternak yang berkembang biak dengan begitu banyak. Kondisi yang sama pun terjadi pada Yusuf sahabatnya.

Melihat kenyataan ini hilang semangatnya untuk mewujudkan impiannya sewaktu hendak pulang ke kampungnya kemarin. Sepertinya percuma, walaupun mungkin aku bisa menyamai kondisi mereka saat ini. Tetap saja aku akan kalah, jam terbang mereka telah lebih jauh meninggalkanku. Kalau aku memutuskan untuk mengikuti jejak mereka itu sama artinya aku harus memulai lagi dari nol. Aku harus berjudi lagi dengan nasib dan belum tentu aku bisa berhasil seperti mereka.

Selepas pulang dari rumah mereka, lama Abdullah merenung tentang banyak hal. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kota untuk meneruskan kembali usaha yang sudah dirintisnya selama ini. Why not? Disana dia lebih dibutuhkan, para langganan dan karyawannya mereka pasti menungguku, mereka pasti masih membutuhkanku.

Akhirnya uang yang sedianya ingin dia pergunakan untuk investasi di kampung sebagian dia berikan kepada bapak dan ibunya. Karena orang tuanya secara materi tak pernah kekurangan jadi Abdullah hanya terserah saja mau dipergunakan untuk apa pun uang itu  oleh kedua orang tuanya.lalu dengan keyakinan yang kuat dan disertai restu orang tuanya Abdullah memutuskan untuk meneruskan kehidupan yang telah dijalaninya selama ini. Yah… mungkin nasib dan peruntunganku bukan terletak di kampung halamannya ini, hatinya berbisik…

Nah dari kisah di atas adakah satu hikmah yang bisa kita petik? Jika ada silahkah ambil dan petiklah…….

buah2an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s