Bahasa Induk? Akh, gensi dooong….!


 

 

 

jawirAda satu kenyaataan yang terjadi di masyarakat yang secara tidak kita sadari terus berkembang biak, dan satu saat nanti  tumbuh subur dan besar. sehingga tak tersedia lagi lahan-lahan untuk akar budaya asli yang ada di negeri ini. Tak percaya?

Sebagai contoh adalah makin enggannya generasi penerus untuk menggunakan bahasa induk dari nenek moyang mereka. Misalnya mereka yang berasal dari, Jawa, Sunda, Medan, Padang, Bali dan seterusnya. Ketika mereka ‘urban’ ke Ibu Kota maka secara perlahan, penggunaan bahasa induk pun mereka tinggalkan. Baik karena tuntutan lingkungan tapi bisa juga karena faktor gengsi.

Atau bisa juga karena faktor orang tua mereka yang keturanan, Jawa, Sunda, Medan, Padang, Bali dan seterusnya, telah lama menetap tinggal di Ibu Kota. Dalam percakapan sehari-hari tidak pernah menggunakan bahasa induk dan mengganti dengan bahasa Indonesia, atau bahasa di lingkungan mereka tinggal maka dengan sendirinya bahasa induk orang tua mereka pun terlupakan, atau bahkan tidak mengerti sama sekali….

Untuk kasus yang kedua masih bisa dimengertilah…. Dalam hal ini ada unsur kesalahan dari orang tua mereka tambahan lagi dengan lingkungan yang mendukung, bayangkann bila dari ‘brojol’ sampai ‘tua bangka’ tinggal di Betawi, dengan orang tua yang tidak pernah mengenalkan bahasa induk mereka, sudah pastilah, keturanan mereka akan lebih fasih bercakap-cakap dalam bahasa betawi, lebih condong ber’elu’ ‘gue’ dari pada ber’panjenengan’ atau ber’sampean’…

Tapi untuk kasus yang pertama, nah ini lebih gaswat lagi! Kenapa? Karena dalam hal ini jelas-jelas para generasi peneruslah yang memang dengan sengaja mencoba menghilangkan identitas ke’bahasa’an mereka. Ya, mungkin karena faktor tadi, gengsi, agar terlihat up to date, keren atau biar tidak dibilang ‘wong ndeso gitu’  ha ha ha…Sampai-sampai si Parto (bukan yang OVJ loh…) dengan dialeknya yang masih kental ‘ngapak’ ber ‘elu gue’ ketika bercakap-cakap dengan saudaranya yang baru datang dari kampung halamannya.”Ekh elu mau makan engga, ini udah gue beliin…”  ucap si Parto dengan logat yang super medok. Hehehe, pasti terdengar lucu dan kasar bukan?

Itu kasus yang menimpa pada bahasa induk masing daerah, di tingkat nasional lebih parah lagi. Nyata dan Fakta, bahwa kita lebih bangga dan merasa lebih memiliki gengsi yang lebih tinggi, bila kita ber’was wes wus’  dengan bahasa bule (Inggris).

Memang pada kenyataannya secara goegrafis bahasa induk, bahasa Indonesia, bahasa Inggris memiliki tingkatan yang berbeda. Yaitu, lokal, nasional, dan internasional.

Tapi ‘mbok ya wo’ jangan sampai menggilas akar kebanggaan kita sebagai bangsa yang memiliki budaya dan adat istiadat yang tinggi. Bila ini dibiarkan terus berlangsung, maka siap-siaplah menjadi bangsa yang tidak lagi memiliki ‘identitas’ diri baik secara lokal, nasional maupun internasional….

2 tanggapan untuk “Bahasa Induk? Akh, gensi dooong….!

  1. tapi tidak mutlak juga seperti itu, hanya saja, bahasa induk itu terkadang masih terdapat pada orang tuanya tapi perlahan tapi pasti anaklah yang tidak akan pernah diajari bahasa induk orang tuanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s