Tentang Penulisan Karya Ilmiah


  1. PENGERTIAN DAN HAKEKAT KARYA TULIS ILMIAH

Karya tulis ilmiah diartikan sebagai karya tulis ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metode dan kaidah penulisan yang baik dan benar.

Menurut Suhardjono karya tulis ilmiah adalah berbagai macam tulisan yang dilakukan seseorang atau kelompok dengan menggunakan tata cara ilmiah atau dengan kata lain karya tulis ilmiah adalah laporan tertulis hasil kegiatan ilmiah. Kegiatan ilmiah dapat berbentuk laporan penelitian, tulisan ilmiah popular, buku, dan lain-lain.

Karya tulis ilmiah adalah kegiatan penuangan data lapangan atau gagasan pemikiran ke dalam bentuk karangan dengan mengikuti aturan dan metode ilmu pengetahuan, sehingga menghasilkan informasi ilmiah yang dapat didiskusikan dan disebarluaskan kepada masyarakat.

Karya tulis ilmiah adalah modifikasi realita menjadi data kegiatan penuilisan, tersusun dalam struktur bagian-bagian yang sistematis dan tersaji dalam bahasa dimana kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraph demi paragraph diatur sesuai langkah-langkah yang umum disepakati dalam penyajian suatu ilmu pengetahuan. Dengan kata lain karya tulis ilmiah adalah kegiatan penuangan data lapangan atau gagasan pemikiran ke dalam bentuk karangan dengan mengikuti aturan dan metode ilmu pengethuan, sehingga menghasilkan informasi ilmiah yang dapat didiskusikan dan disebarluaskan kepada masyarakat.

Suatu tulisan dapat dikatakan sebagai karya tulis ilmiah apabila memiliki ciri sebagai berikut:

  1. Disertakan fakta dan data yang bukan merupakan khayalan ataupun pendapat pribadi.
  2. Disajikan dengan bentuk ilmiah, objektif atau apa adanya
  3. Menggunakan bahasa baku (ilmiah), lugas, jelas, dan jauh dari makna konotasi/ambiguous.

Lebih spesifik, karya ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Mendalam/tuntas, yaitu masalah dibahas sampai kepada masalah dasarnya.
  2. Objektif, yaitu masalah diungkapkan sebagaimana adanya, tidak dipengaruhi oleh opini subjektif penulisnya.
  3. Sistematis, yaitu masalah dibahas menurut pola tertantu sehingga jelas urutan dan kaitan antar unsur-unsur dalam tulisan tersebut.
  4. Cermat, yaitu pembahasan dan penulisan sedapat mungkin tanpa kesalahan.
  5. Lugas tanpa basa basi tetapi langsung mengenai masalah yang dikaji.
  6. Tidak melibatkan perasaan seperti keharuan, kebencian, dan kekaguman.
  7. Berlaku umum, artinya kesimpulan berlaku bagi semua populasi kajian.
  8. Menggunakan bahasa baku, tepat, ringkas, dan jelas.

Selain dari itu, suatu karya tulis disebut karya tulis ilmiah bilamana minimal memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Isi kajian berada pada lingkup pengetahuan ilmiah.
  2. Langkah-langkah kegiatannya dijiwai atau menggunakan metode berpikir ilmiah.
  3. Sosok tampilannya sesuai dan telah mempunyai persyaratan sebagai suatu sosok tulisan keilmuan.

Karya tulis ilmiah berfungsi sebagai sarana untuk menuangkan gagasan, pemikiran, dan hasil pencarian manusia terhadap sesuatu yang ingin diketahuinya.

Diperlukan beberapa kemampuan dasar dalam menulis karaya tulis. Menurut Sudjana dkk (2002) terdapat beberapa kemampuan dasar yang dituntut agar dapat membuat karya tulis ilmiah, antara lain:

  1. Pengetahuan dasar tentang penulisan karya ilmiah, baik yang berkenaan dengan teknik penulisan maupun yang berkenaan dengan motivasi ilmiah, termasuk keterampilan menggunakan bahasa tulisan dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah berlaku.
  2. Memiliki wawasan yang luas tentang hal yang ditelitinya baik praktek maupun teori, sehingga diperlukan adanya usaha untuk mempelajari buku dan literature lainnya.
  3. Pengetahuan dasar mengenai metode penelitian, untuk itu kita dituntut mempelajari buku-buku penelitian, membaca hasil penelitian orang lain, diskusi, dan lain-lain.
  4. Menguasai materi keilmuan atau materi bidang study yang menjadi keahliannya (Tim Instruktur PLPG, 2010:84).
  1. KRITERIA KARYA TULIS ILMIAH

Karya tulis ilmiah harus memiliki kriteria APIK, yaitu:

  1. Asli artinya merupakan karya sendiri bukan hasil jiplakan (plagiat).
  2. Perlu atau bermanfaat, artinya karya tulis tersebut memiliki manfaat, diantaranya untuk meningkatkan atau mengembangkan profesi.
  3. Ilmiah, artinya penyusunan karya tulis ilmiah mengikuti kaidah keilmuan, menggunakan metode ilmiah, dan benar secara ilmiah.
  4. Konsisten, artinya karya ilmiah yang ditulis sesuai dengan bidang keahlian dan dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis.
  1. MACAM – MACAM KARYA TULIS ILMIAH

Secara umum karya tulis ilmiah terbagi atas beberapa jenis, antara lain : 

  • Laporan Hasil Kegiatan Ilmiah

Laporan hasil kegiatan ilmiah merupakan jenis karya tulis ilmiah yang mendeskripsikan argument ilmiah dari suatu penelitian atau kajian. Laporan hasil kegiatan ilmiah pada dasarnya adalah laporan hasil penelitian yang disusun secara tertulis dengan menggunakan aturan dan kaidah penulisan karya ilmiah. Bentuk laporan hasil kegiatan ilmiah dapat berupa skripsi, tesis, ataupun desertasi.

  •  Artikel (tulisan ilmiah populer)

Artikel merupakan jenis karya tulis ilmiah yang dipublikasikan kepada umum. Artikel merupakan karya tulis ilmiah yang sudah dikemas dengan menggunakan bahasa yang diperkirakan akan dapat dipahami oleh para pembaca dalam lingkup yang lebih luas. Karya tulis ini biasanya disajikan dalam media cetak, dan berupa opini yang dikemas dalam bentuk karya tulis ilmiah populer. Masalah yang diasajikan dalam artikel biasanya persoalan yang sedang hangat dibicarakan.

Ulasan dan kajian dalam artikel berisi pandangan, tanggapan, harapan, dan penilaian disertai saran-saran pemecahannya. Untuk memperkuat argument dalam artikel bias digunakan landasan teori dari berbagai literature, kebijakan, fakta-fakta, atau logika umum.

  •  Makalah Ilmiah

Menurut Sudjana, dkk. (2002) makalah ilmiah adalah kajian atau tulisan ilmiah hasil gagasan sendiri yang disajikan dalam bentuk tulisan (Tim Instruktur PLPG, 2010:88). Selanjutnya menurut Sudjana, dkk. (2002) berdasarkan prosedur pemecahannya, makalah dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu makalah deduktif dan makalah induktif.

  1. Makalah deduktif pemecahan masalahnya didasarkan atas berpikir rasional atau melalui telaah kepustakaan.
  2. Makalah induktif pemecahan masalahnya berdasarkan atas berpikir empiris melalui data dan fakta yang diperoleh dari lapangan (Tim Instruktur PLPG, 2010:88).

Menurut kepentingannya, makalah ilmiah ada yang merupakan makalah ilmiah untuk pertemuan ilmiah seperti seminar, symposium, atau lokakarya, dan makalah ilmiah untuk kepentingan study atau tugas akhir.

  • Buku Ilmiah      

Buku ilmiah adalah karya tulis yang berisi materi yang menunjang dalam meningkatkan ilmu pengetahuan. Selain itu, buku ilmiah adalah karya tulis yang berisi bahan pelajaran yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pemebelajaran. Buku tersebut dapat berupa buku pelajaran, modul, diktat, terjemahan maupun berupa saduran.

  1. Buku pelajaran adalah bahan atau materi pelajaran yang dituangkan secara tertulis dalam bentuk buku yang digunakan sebagai bahan pegangan pembelajaran, baik pegangan pokok maupun pelengkap.
  2. Modul adalah materi pelajaran yang disusun dan disajikan secara tertulis sedemikian rupa sehingga pembacanya diharapkan dapat menyerap sendiri materi tersebut.
  3. Diktat adalah catatan tertulis suatu mata pelajaran atau bidang studi yang dipersiapkan guru untuk mempermudah/memperkaya materi pelajaran yang disajikan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran.
  4. Terjemahan adalah hasil karya penerjemahan buku pelajaran atau karya ilmiah dari bahasa asing ke bahasa Indonesia atau sebaliknya.
  5. Saduran (editorial) adalah kumpulan topik-topik tulisan dari sejumlah pengarang tentang sesuatu pokok bahasan yang disatukan dalam satu judul karangan.
  1. PEDOMAN PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH

Dalam penyusunan karaya tulis ilmiah yang perlu diperhatikan adalah teknik penggunaan bahasa, tatacara penulisan, pengetikan format laporan, penulisan judul, penyajian gambar dan tabel, pencantuman kutipan, dan daftar kepustakaan.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar sesuai dengan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Pedoman tersebut menjelaskan tata cara pemenggalan kata, pemakaian huruf capital dan huruf miring, penulisan kata, ejaan dan peristilahan.

  •  Makalah Ilmiah

Makalah ilmiah disusun dengan sistematika sebagai berikut:

  • Judul makalah

Judul makalah hendaknya singkat dan jelas (mengacu kepada permasalahan yang dibahas) mencerminkan isi yang terkandung di dalamnya.

  • Pendahuluan

Pendahuluan sifatnya mengantarkan pembaca kepada isi uraian makalah agar pembaca mempunyai gambaran apa dan bagaimana isi makalah tersebut. Bagian pendahuluan berisi latar belakang masalah, masalah, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika uraian

  • Isi

Bagian isi memuat uraian tentang hasil kajian penulis dalam mengeksplorasi jawaban terhadap masalah yang diajukan, yang dilengkapi dengan data pendukung serta argumen-argumen yang berlandaskan pandangan pakar dan teori yang relevan.

  • Kesimpulan dan saran

Kesimpulan bukan ringkasan isi, melainkan makna yang diberikan penulis terhadap uraian dalam bagian isi.

  • Daftar pustaka

Dalam daftar pustaka dituliskan buku-buku atau tulisan-tulisan yang dipakai sebagai acuan dalam membuat makalah.

  •  Tulisan Ilmiah Populer (Artikel)

Artikel hendaknya berisi tema dan masalah yang aktual, memberi manfaat kepada masyarakat, kebenaran isi dapat dipertanggungjawabkan, objektif, dan tiadak mendiskreditkan pihak-pihak tertentu.

Penyajian artikel dalam media masa tidak memerlukan kata pengantar, daftar isi, bahkan kepustakaan, yang paling penting adalah isi kajiannya. Judul dari artikel di media masa harus menarik atau menggugah pembaca, tetapi tidak terlalu panjang. Menurut Sudjana, dkk.(2002) ada tiga hal yang perlu dituis dalam tulisan ilmiah di media masa, yakni deskripsi permasalahan, ulasan permasalahan, dan kesimpulan atau saran pemecahan (Tim Instruktur PLPG, 2010:90)

  • Buku / Modul / Diktat Pembelajaran

Dalam buku/modul/diktat dikemukakan isi bahan ajar yang berupa pengetahuan keilmuan yang harus dipelajari. Oleh karena itu, bahan yang ditulis harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

  • Makalah  Ilmiah dalam Pertemuan Ilmiah

Sudjana, dkk. (2002) mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis dan menyajikan makalah ilmiah dalam pertemuan ilmiah, yaitu:

  1. Tulis dulu makalah yang diminta sesuai dengan aturan penulisan makalah ilmiah, kirim ke penyelenggara untuk diperbanyak.
  2. Untuk keperluan penyajian makalah, kita perlu menyiapkan bahan sajian (pokok-pokok pikiran yang telah dituangkan di dalam makalah).
  3. Usahakan agar tidak membaca makalah yang telah dibuat. Jelaskan pokok pikiran atau garis besar sajian dengan menggunakan transparansi atau power point.
  4. Gunakan waktu sehemat mungkin dan hindari kejenuhan peserta pertemuan.
  5. Penampilan diri dalam penyajian sangat penting diperhatikan, mulai dari pakaian sampai kepada penampilan diri.
  6. Sebelum dibuka dengan diskusi dan Tanya jawab, akhiri pembicaraan dengan ucapan terimakasih, dan mintalah tanggapan, saran, dan pandangan terhadap bahan sajian guna penyempurnaan pemecahan masalah (Tim Instruktur PLPG, 2010:90).
  • Karya Tulis Ilmiah Hasil Penelitian

Secara umum sistematika penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian meliputi:

  1. Jilid memuat judul penelitian (dirumuskan dalam satu kalimat yang ringkas, komunikatif, dan afirmatif, juga harus mencerminkan dan konsisten dengan ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, subjek penelitian, dan metode penelitian), nama peneliti, dan lembaga tempat peneliti bekerja atau studi.
  2. Lembar pengesahan karya tulis ilmiah ditandatangani oleh pembimbing, dan pejabat yang berwenang.
  3. Kata pengantar ditulis tidak lebih dari satu halaman. Kata pengantar berisi uraian yang mengantar para pembaca karya tulis ilmiah kepada permasalahan yang diteliti. Dapat juga berisi ucapan terima kasih pada pihak-pihak yang telah membantu.
  4. Abstrak merupakan uraian singkat dan lengkap tentang isi karya tulis ilmiah yang memuat judul, permasalahan, pendekatan terhadap masalah, landasan teoritis, hasil temuan, dan rekomendasi. Abstrak ditulis tidak lebih dari satu halaman.
  5. Daftar isi merupakan penyajian sistematika isi secara rinci yang berfungsi untuk mempermudah mencari bagian yang ingin dibaca.
  6. Daftar gambar, table, bagan, grafik
  7. Daftar lampiran merupakan sajian lampiran secara berurutan
  8. Bab I berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan keguanaan penelitian.
  9. Bab II kajian pustaka, kerangka pemikiran, dan hipotesis
  10. Bab III Obyek dan metode penelitian berisi objek penelitian, metode penelitian (disain penelitian, definisi operasional variable, teknik penentuan responden, dan teknik pengumpulan data0, pengujian instrument, metode analisis data, lokasi, dan jadwal penelitian.
  11. Bab IV hasil penelitian dan pembahasan.
  12. Bab V kesimpulan dan saran
  13. Daftar pustaka
  14. Lampiran-lampiran

Sumber :

  •  Departeman Agama RI, 2004. Panduan Penulisan Karya Tulis/Karya Ilmiah Guru Pendidikan Agama Islam; Edisi Revisi. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
  • Tim Instruktur PLPG, 2010. Materi Pendidikan dan Pelatihan Guru Bahasa Inggris. Tasikmalaya: UNSIL.
  • Suherli, 2007. Menulis Karangan Ilmiah; Kajian dan Penuntun dalam Menyusun Karya Tulis Ilmiah. Depok: Arya Duta.
  • STIMIK JABAR, 2005. Pedoman Prosedur Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis Penyusunan Karya Tulis Ilmiah; Revisi III.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Qur’an menurut bahasa adalah “bacaan”. Adapun definisi al-quran adalah kalam Allah SWT. yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW. dan membacanya adalah ibadah. Dengan definisi ini, maka kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad Saw tidak dinamakan Al-quran.

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw, sebagai salah satu rahmat yang tidak ada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul wahyu illahi yang menjadi petunjuk, pedoman, dan pelajaran bagi siapa yang mempercayainya serta mengamalkannya. Bukan itu saja, tetapi juga Al-quran itu adalah kitab suci paling terakhir yang diturunkan Allah, yang isinya mencakup segala pokok pokok syariat yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya.
Karena itu, setiap orang yang mempercayai Al-quran, akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, untuk mempelajari dan memahaminya serta pula untuk mengamalkan dan mengajarkannya. Setiap mukmin yakin, bahwa membaca Al-quran termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapatkan pahala. Al-quran adalah sebaik-baik bacaan bagi orang mukmin, baik di kala senang maupun dikala susah dikala gembira ataupun dikala sedih, bahkan membaca al quran menjadi obat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.

Setiap mukmin yang mempercayai Al-quran, mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap kitab sucinya itu. Diantara tanggung jawab itu ialah mempelajarinya dan mengajarkannya. Belajar dan mengajarkan Al-quran adalah kewajiban suci dan mulia. Rasulullah SAW. bersabda “Yang sebaik-baik kamu ialah orang yang mempelajari Al-quran dan mengajarkannya”. Kini kita hidup di dunia yang tanpa batas (borderless), era globalisasi. Berbagai informasi baik itu diperlukan atau tidak, buruk atau baik menghampiri rumah-rumah kita setiap saat tanpa dapat dibendung.

Banjir informasi yang sebagian besar tidak diperlukan ini bagi sebagian kecil orang merupakan anugerah, namun bagi sebagian besar lainya lebih sering berakibat buruk walaupun kadang kurang disadarinya. Era informasi yang oleh Alvin Tofler disebut dengan istilah gelombang ketiga “third wave” ini melanda seluruh dunia. “Barang siapa yang menguasai informasi maka dia akan menguasai dunia” bukanlah isapan jempol.

Sayangnya, yang menguasai pusat pusat informasi adalah mereka yang bermodal besar namun minim tanggung jawab moral, sehingga program-program yang disuguhkan sebagian besar program yang tidak mendidik bahkan cenderung merusak moral. Bagi mereka tidak masalah apapun program yang disajikan selama itu disukai masyarakat dan mendatangkan keuntungan yang banyak. Akibat selanjutnya adalah terjadinya dekadensi moral melanda sebagian besar masyarakat. Pergaulan bebas, gaya hidup yang serba bebas, obat-obatan terlarang, minum-minuman keras, dan efek-efek negatif lainnya.

Untuk mengantisipasi dampak negatif media informasi yang merusak perlu adanya gerakan kembali kepada Al-quran dalam rangka menggali nilai-nilai Al-quran sebagai perisai guna membentengi diri dalam menghadapi budaya-budaya yang merusak moral.
Belajar Al-quran hendaknya dilakukan dari semenjak dini sekitar 5 atau 6 tahun, sehingga ketika beranjak remaja anak diharapkan familiar dengan bacaan-bacaan Al-quran bahkan sudah mampu menghafal surat-surat pendek. Belajar Al-quran dapat dibagi kepada beberapa tingkatan, yaitu belajar membacanya sampai lancar dan baik, menuruti qaedah-qaedah yang berlaku dan qiraat dan tajwid, belajar arti dan maksudnya sampai mengerti akan maksud-maksud yang terkandung di dalamnya dan belajar menghafalnya di luar kepala. Tidak dapat dipungkiri masih terlalu banyak anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis Al-quran dengan berbagai alasan padahal Al- quran merupakan rujukan utama bagi umat Islam.

Bagaimana bisa menggali nilai-nilai Al-quran dalam rangka membentengi diri dalam menghadapi budaya-budaya yang merusak moral jika anak tidak dapat membaca dan menulis Al-quran. Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul : “Meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-quran siswa dengan menggunakan metode demonstrasi di Kelas V SD”.

1.2 Identifikasi Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka pokok-pokok masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Kemampuan siswa kelas V SD dalam membaca Al-Qur’an kurang lancar
2. Kemampuan siswa kelas V SD dalam menulis Al-Qur’an masih kurang.
3. Penggunaan metode pembelajaran masih terlalu sulit, sehingga prestasi yang dicapai masih rendah.

1.3 Pembatasan dan Rumusan Masalah
1 Pembatasan Masalah
Agar pembahasan dalam penelitian ini tidak terlalu meluas, maka penulis akan membatasinya pada : Penggunaan metode demonstasi dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Quran siswa kelas V SD.

2 Rumusan Masalah
Masalah adalah pertanyaan-pertanyaan yang sengaja diajukan untuk dicari jawabannya melalui penelitian, Sudjana N. (1997:21). Menurut pendapat di atas masalah yaitu masalah-masalah yang sengaja diajukan jawabannya diperoleh melalui penelitian. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka masalah penelitian ini adalah :
a. Apakah metode demonstrasi dapat meningkatkan aktifitas siswa membaca dan menulis Al quran di kelas V SD?
b. Apakah metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al quran siswa di SD?
c. Apakah metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi membaca dan menulis Al quran siswa di SD?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk Meningkatkan aktifitas belajar siswa dalam pembelajaran PAI aspek Al quran melalui metode demonstrasi di SD.
2. Untuk mengetahui efektifitas metode demonstrasi dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa dalam pembelajaran PAI aspek Al quran
3. Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PAI aspek Al quran melalui metode demonstrasi di SD.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan memberikan manfaat terhadap perbaikan kualitas pendidikan dan pembelajaran, di antaranya :
1. Bagi siswa, dapat lebih meningkatkan pemahaman dan penghayatan siswa, berani bertanya, mengemukakan pendapat dan dapat meningkatkan hasil belajar PAI aspek AlQur’an
2. Bagi guru, sebagai salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan hasil belajar PAI dengan metode demonstrasi.
Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul : Meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an siswa melalui metode demonstrasi di kelas 5 pada semester 2 di SD.

BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertanggkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik (Hodson, 1960:43-44).
Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (written word) yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna. (Andrson, 972 : 202-210).
2.2 Tujuan Membaca
Tujuan utama membaca adakah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca.
2.3 Pengertian Menulis
Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan merupakan sebuah simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakaiannya. Dengan demikian, dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat : Penulis sebagai penyampai pesan (penulis), pesan atau isi tulisan, salursan atau media berupa tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.
2.4 Manfaat Menulis
Adapun manfaat dari kegiatan menulis ini di antaranya adalah sebagai berikut :
meningkatkan kecerdasan;
mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas;
menumbuhkan keberanian; dan
mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

2.5 Hakikat Belajar dan Mengajar
Berbicara tentang pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan pendidikanpun tergantung pada unsur manusianya. Adapun unsur manusia yang paling menentukan berhasilnya pendidikan adalah pelaksana pendidikan, yaitu guru. Karena gurulah yang secara langsung mempengaruhi, membina, mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang bertaqwa, cerdas dan terampil.
Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar maka guru harus menguasai bahan yang akan diajarkan dan terampil pula dalam hal menyajikannya. Guru diharapkan dapat memilih dan menggunakan metode-metode pembelajaran yang sesuai dengan pokok-pokok bahasan atau sub pokok bahasan.
Adapun belajar adalah “Proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk perubahan seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar” (Sudjana, 1989:5).
Selanjutnya, “Mengajar adalah bimbingan kegiatan siswa belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar mengajar.” (Sudjana, 1987:7)

2.6 Metode Demonstrasi
Metode adalah cara guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan. Depdiknas (2003) menurut Syaepul Sagala (2005:210) metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata.
Yang dimaksud dengan metode demonstrasi dalam belajar dan mengajar yaitu metode yang digunakan oleh seorang guru atau orang luar yang sengaja didatangkan atau murid sekalipun untuk mempertunjukkan gerakan-gerakan suatu proses dengan peraturan yang benar. Menurut Sudirman (1991:113), demonstrai adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan yang sering disertai dengan penjelasan lisan, metode ini baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam menggunakan metode demontrasi :
a. Kelebihan
1. Metode ini dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit, dengan demikian dapat menghindarkan verbalisme.
2. Siswa diharapkan lebih mudah dalam memahami apa yang dipelajari
3. Proses pelajaran akan lebih menarik
4. Siswa dirancang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan dan mencoba melakukannya sendiri
5. Melalui metode ini dapat sajikan materi pelajaran yang tidak mungkin atau kurang sesuai dengan menggunakan metode lain

b. Kelemahannya
Kelemahan metode ini antara lain :
1. Metode ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu, pelaksanaan
demonstrasi tidak akan efektif
2. Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik
3. Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping sering memerlukan waktu yang cukup panjang yang mungkin terpaksa mengambil waktu jam pelajaran lain.
2.7 Cara Pelaksanaan
Untuk menggunakan metode demonstrasi dengan baik, beberapa langkah perlu ditempuh antara lain :
Penentuan tujuan demonstrasi yang akan dilakukan. Dalam hal ini pertimbangkan apakah tujuan yang akan dicapai dengan belajar melalui demonstrasi itu tepat dengan menggunakan metode demonstrasi.
Materi yang akan didemonstrasikan terutama hal-hal yang penting ingin ditonjolkan
Siapkan fasilitas penunjang demonstrasi seperti peralatan, tempat, dan mungkin juga biaya yang dibutuhkan
Penataan peralatan dan kelas pada posisi yang baik
Pertimbangkan jumlah siswa yang dihubungkan dengan hal yang akan didemonstrasikan agar siswa dapat melihatnya dengan jelas
Buatlah garis besar langkah atau pokok-pokok yang akan didemonstrasikan secara berurutan dan tertulis pda papan tulis atau padakertas lembar agar dapat dibaca siswa dan gurunya secara keseluruhan
Untuk menghindari kegagalan dalam pelaksanaan, sebaiknya demonstrasi yang direncanakan dicoba terlebih dahulu. Tak jarang demonstrasi gagal hanya karena hal kecil seperti kabel listrik yang kurang panjang, penerangan (lampu) yang kurang terang, atau penempatan peralatan yang kurang strategis.
2.8 Pelaksanaan Demonstrasi
Setelah segala sesuatu direncanakan dan disiapkan, langkah berikutnya ialah mulai melaksanakan demonstrasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :
1. Sebelum memulai, periksalah sekali lagi kesiapan peralatan yang akan didemonstrasikan, pengaturan tempat, keterangan tentang garis besar langkah dan pokok-pokok yang akan didemonstrasikan.
2. Siapkan siswa, barangkali ada hal yang perlu mereka catat
3. Mulailah demonstrasi dengan menarik perhatian siswa
4. Ingatlah Pokok-pokok materi yang didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai sasaran
5. Pada waktu berjalannya demonstrasi, sekali-kali perhatikan keadaan, apakah semua mengikuti dengan baik
6. Untuk menghindarkan ketegangan, ciptakan suasana yang harmonis
7. Berikanlah kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarnya dalam bentuk pertanyaan, membandingkannya dengan yang lain serta mencoba melakukannya sendiri dengan bimbingan guru.

BAB IIIMETODE PENELITIAN
Waktu Penelitian dan Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu dari Januari s/d Maret 2009. Siklus I dilaksanakan tanggal 04 Februari 2009, sedangkan siklus II dilaksanakan tanggal 11 Februari 2009.
Tempat penelitian ini dilakukan di SD Subjek penelitian adalah siswa kelas V yang berjumlah 38 orang. Penelitian ini dilaksanakan dengan dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua pertemuan.

Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif karena dalam pelaksanaannya tidak terbatas pada pengumpulan data, melainkan dilanjutkan dengan pengolahan data yaitu dengan cara mengumpulkan data, menyusun, mengolah dan menginterpretasikan data.

Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam tindakan kelas ini menggunakan model yang digunakan oleh Kurt Lewin. Tahapan-tahapan penelitian tindakan kelas ini dibagi menjadi 4 tahapan pada setiap siklus yaitu :
1. Perencanaan (planning)
2. Aksi atau tindakan (acting)
3. Obervasi (Observing)
4. Refleksi (reflecting). Dikdasmen (h. 16.2003).
Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas meliputi 2 siklus yang terdiri dari : a. perencanaan, b. tindakan, c. pengamatan, dan refleksi.
1. Perencanaan meliputi aktivitas sebagai berikut :
a. Mendiskusikan dan menetapkan rancangan pembelajaran yang akan diterapkan sebagai tindakan dalam siklus
b. Menyusun rencana pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi sesuai materi yang telah ditetapkan
c. Mengembangkan skenario pembelajaran
d. Mengembangkan format observai dan format evaluasi
2. Pelaksanaan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan sekenario pembelajaran yang telah direncanakan, melaksanakan evaluasi dalam bentuk tes
3. Pengamatan
Pada tahap ini dilaksanakan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang disiapkan
4. Refleksi
a. Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan pada skenario pembelajaran
b. Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario, tes kemampuan pemahaman dan lain-lain
c. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada pertemuan berikutnya.
Tahap pelaksanaan ini terus dilakukan secara berulang dan berkesinambungan sesuai siklus.

o Indikator keberhasilan
Yang menjadi indikator keberhsilan penelitian ini adalah :
a. Instrumen-instrumen yang telah disiapkan pada tiap-tiap siklus dapat dilaksanakan dengan baik
b. Aktivitas siswa dalam belajar meningkat
c. Lebih dari 70% siswa yang mendapat nilai 65 ke atas

3.4 Teknik Pengumpulan Data
1) Data
Sumber data pada penelitian ini seluruh siswa, sedangkan data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data yang dikumpulkan meliputi :
a. Data tes kemampuan pada siklus 1 dan 2
b. Data observasi pada waktu proses pembelajaran
c. Jurnal harian (catatan harian)
d. Foto, diambil pada waktu proses pembelajaran
2) Teknik pengumpulan data
Data yang dikumpulkan diperoleh melalui observasi, tes kemampuan pemahaman dan catatan harian

3) Obervasi
Observasi dilakukan untuk memperolah informasi kegiatan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Di dalam observasi pengamatan, kita akan memperoleh masukan tentang akitifitas siswa, cara belajar, kerjasama antar siswa dan sebagainya.
4) Jurnal harian
Jurnal harian semacam catatan harian yang dikumpulkan selama proses pembelajaran baik itu aktifitas maupun kegiatan guru di dalam pelaksanaan proses belajar mengajar
5) Data tes kemampuan pemahaman
Data ini diambil dari pertemuan pertama maupun pertemua kedua, ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan hasil selama kegiatan dilakukan dan menggunakan data kuantitatif.
6) Foto
Foto digunakan untuk melengkapi informasi data agar peristiwa yang tejadi dalam kegiatan penelitian dapat direkam dan dijadikan sebagai alat bukti dalam pengumpulan data.

3.5 Analisis Data
a. Data observasi
Data tes observasi ini diambil dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti selama kegiatan berjalan dengan menggunakan ceklis kemudian dipersentasikan

b. Data tes kemampuan
Data tes ini untuk menemukan nilai setiap siswa dari hasil tes dengan skala nilai 100 untuk menentukan banyaknya siswa yang mendapatkan nilai 65 ke atas.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari uraian tersebut di atas penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pembelajaran membaca dan menulis Al-Qur’an dengan menggunakan metode demonstrasi dapat membuat pengajaran lebih atraktif dan kelas tampak lebih hidup, sehingga siswa lebih dapat memahami apa yang dipelajari.
2. Pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman dan meningkatkan aktivitas siswa, hal ini dapat dibuktikan dari hasil perbedaan nilai rata-rata pretes dan postes.

Saran
Untuk keberhasilan dalam pembelajaran ini penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut :
1. Guru hendaknya mengkondisikan kelas sebelum memulai pembelajaran
2. Selama proses pembelajaran guru hendaknya mampu membangkitkan motivasi dan aktivitas siswa dengan memilih metode dan teknik yang tepat.
3. Dalam proses belajar mengajar guru hendaknya dapat menciptakan kondisi kelas yang menyenangkan sehingga interaksi antara guru dan murid berjalan harmonis, merangsang siswa untuk bertanya dan menyatakan pendapatnya.
4. Pada saat memberikan bahan pengajaran guru hendaknya tidak terpaku pada buku paket saja, tetapi hendaknya menggali bahan pengajaran dari pengalaman siswa atau buku lain yang berkaitan dengan bahan yang akan diajarkan.

KEPUSTAKAAN

Henry Guntur Tarigan. (1979). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.

Suparno dan Muhamad Yunus. (2006). Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta : Universitas Terbuka
Sujana N. (1995) Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung : Sinar Baru

Suhardjono, Azis Hoesein, dkk. (1996). Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Widyaiswara. Jakarta : Depdikbud, Dikdasmen.

Suhardjono (2006). Laporan Penelitian sebagai KTI, makalah pada pelatihan peningkatan mutu guru dalam pengembangan profesi di Pusdiklat Diknas Sawangan, Jakarta, Februari 2006.

Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi (2006) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Tim Bina Karya Guru (2004) Pendidikan Agama Islam untuk SD kelas V. Penerbit : Erlangga.

CONTOH JURNAL UNTUK PAUD-SD


MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR (active learning) SISWA

BERKARAKTER CERDAS DENGAN PENDEKATAN SAINS TEKNOLOGI (STM)

ABSTRACT

Purpose of the research is to know improvement of learning activity with character

intelligent and creativity student among the fifth grade students of SD Negeri III-162

Banjarsari Surakarta in study IPA by using Sains Teknologi Masyarakat (STM) approach.

The research uses a qualitative method with a research type of classroom action

research (CAR) consisting of two cycles. The research procedure consists of four phases, that

are planning, action implementation, observation, and reflection. Subject of the research is

the fifth grade students of SD Negeri Sumber III-162 amounting to 37 students. Data is

collected by using observation, documentation, and test.

Based on result of the research, it can be concluded that IPA learning by using Sains

Teknologi Masyarakat (STM) approach is able to improve learning activity with character

intelligent and creativity student. Improvement of the students learning activity could be seen

in the increased of observation paper. In beginning condition, average learning activity was

66,46 or in poor category. The average learning activity increased to 71,51 or in moderate

activity in first cycle, and it increased to 80,35 or in good category in second cycle. Thereby,

applications of Sains Teknologi Masyarakat (STM) approach can be used to improve IPA

learning activity among the fifth grade students of SD Negeri 3 Ngraji Purwodadi Grobogan

of 2009/2010 Academic Year.

Keyword : STM, improvement of learning activity with character intelligent and creativity

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Penguasaan dan penggunaan IPTEK merupakan kunci penting dalam kehidupan abad

ini. Oleh karena itu, peserta didik perlu dipersiapkan untuk mengenal, memahami dan

menguasai IPTEK dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya. Upaya untuk

mempersiapkan hal tersebut dilakukan melalui pendidikan formal dan non formal.

Pendidikan sains (IPA) sebagai bagian dari pendidikan umumnya memiliki pera nan

penting dalam peningkatan mutu pen didikan. Pada peningkatan ini, khu susnya di dalam

menghasilkan peserta di dik yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu ber pikir kritis,

kreatif, logis, dan berini siatif dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh

dampak perkembangan il mu pengetahuan/sains dan teknologi (IPTEK).

Namun, pembelajaran IPA masa seka rang ini kurang dikaitkan dengan isu sosial dan

teknologi yang ada di masya rakat, terutama yang berkaitan dengan perkem bangan teknologi

dan kehadiran produk-produk teknologi di masyarakat, serta aki bat yang ditimbulkannya.

Penga jaran IPA di seko lah semata-mata hanya berorientasi pada tuntutan kurikulum yang

telah ditu angkan di dalam buku teks. Pembelajaran di kelas pun masih didomi nasi oleh cera

mah dari guru. Aktivitas siswa dapat dika takan hanya mendengar kan penjelasan guru dan

men catat hal-hal yang dianggap penting. Guru hanya menjelaskan sebatas produk dan sedi

kit proses.

Seorang guru tidaklah mudah mencipta kan kondisi yang kondusif bagi semua siswa.

Ada siswa yang proaktif, ada siswa yang ti dak banyak bicara (pendiam) tetapi memiliki

kemampuan akademik di atas temannya, dan terdapat pula siswa yang banyak bicara tetapi

memiliki kemampuan rendah. Bahkan, ada siswa dengan kemampuan akademik menengah ke

bawah merasa tertekan dengan materi IPA yang pe nuh dengan teori, konsep, rumus-rumus,

dan praktikum yang rumit bahkan sulit di pahami.

Hal tersebutlah yang dapat menyebab kan kurang bermaknanya pelajaran IPA ini,

sehingga menyebabkan aktivitas belajar sis wa menjadi rendah dan pembelajaran cen derung

pasif. Padahal, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pende katan pengajaran

yang digunakan dalam kegi atan pembelajaran seharusnya siswa diposisi kan sebagai pusat

perhatian atau dengan kata lain siswa yang aktif.

Berdasarkan daftar nilai ulangan harian IPA khususnya pada materi pesawat sederha

na di kelas V SD Negeri Sumber III, menun jukkan rata-rata kelas yang masih ren dah, yaitu

hanya 61. Selain itu, dari hasil obser vasi yang dilakukan di kelas V SD Negeri Sumber III,

guru menjelaskan mate ri dengan didominasi oleh penggunaan metode cera mah, tanya jawab

dan kegiatan lebih ber pusat pada guru. Aktivitas siswa dapat di katakan hanya

mendengarkan penjelasan gu ru, mencatat hal-hal yang diang gap penting saja, dan menjawab

pertanyaan jika ditunjuk, ada pula beberapa siswa yang mengantuk, bermalas-malasan dan

melakukan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan pela jaran.

Selain itu, menurut Sardiman aktivitas sis wa tidak hanya mendengarkan dan men

catat saja tetapi lebih menitikberatkan pada aktivi tas atau keikutsertaan siswa dalam proses

pembelajaran. Penggunaan metode ceramah lebih cenderung menghasilkan kegiatan bela jar

mengajar yang membosan kan bagi anak didik. Kondisi seperti ini sangat tidak me

nguntungkan bagi guru dan anak didik. Guru mendapatkan kegagalan dalam penyam paian

pesan-pesan keilmuan dan anak didik diru gikan. Akibatnya masih banyak siswa yang

mengalami kesulitan dalam belajar biologi se hingga hasil belajar yang diperoleh belum

memuaskan dan terbilang masih rendah. (Sardiman, 2003: 95)

Dalam upaya meningkatkan penguasaan materi siswa terhadap konsep-konsep dan

prinsip-prinsip IPA serta meningkatkan literasi sains dan teknologi siswa, mestinya penyajian

materi ajar IPA di sekolah selalu dikaitkan dan disepadankan dengan isu sosial dan teknologi

yang ada dima syarakat. Dalam hal ini, pendekatan yang sesuai de ngan perkembangan

IPTEK adalah pende katan Sains Teknologi Masya rakat (STM), karena pendekatan ini me

mungkinkan siswa berperan aktif dalam pembelajaran dan dapat menampilkan peranan sains

dan teknologi di dalam kehidupan masyarakat. Tujuan utama pen dekatan STM ini adalah

menghasilkan siswa yang cukup mempunyai bekal penge tahuan, sehingga mampu

mengambil keputu san penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat (Iskandar, 1996 :

1). Melalui pen dekatan Sains Teknologi Masya rakat dapat dikembangkan 6 ranah sains

yaitu ranah konsep, proses, aktivitas, sikap, aplikasi, dan keterkaitan (Anna Poedjiadi, 2005:

131-132)

Dari hasil penelitian-penelitian sebe lumnya menunjukkan bahwa pembelajaran sains dengan

pendekatan STM memberikan hasil yang positif bagi siswa. Rasa bosan dan kurangnya minat

siswa berkurang setelah di lakukan pembelajaran sains dengan pendeka tan STM dan terjadi

pe ningkatan minat dan rasa ingin tahu. Hasil penelitian Myers dan Varrella menyatakan

bahwa pembelajaran sains dengan pende katan STM sangat efektif untuk mening katkan

penguasaan konsep,dan siswa lebih mampu menerapkan konsep-konsep sains yang diperoleh

dalam kehidup an sehari-hari. (Myers dan Varrella dalam Iskandar, 1994: 5)

Dengan dasar latar belakang tersebut a kan diadakan penelitian tentang “ Pendekatan sains

Teknologi Masyarakat (STM) pada ke las 5 SD sebagai upaya meningkatan aktivi tas bealajar

(active lear ning) yang berkara kter cerdas dan kreatif Siswa SD Sumber III Negeri di

Kecamatan Banjarsari Surakarta”.

Landasan Teori

Hampir semua kegiatan manusia yang meliputi kecakapan, keterampilan, kegemaran,

kebiasaan, pengetahuan, dan si kap manusia terbentuk dan berkembang kare na adanya

belajar.Belajar bisa terjadi di ma na-mana, baik itu di rumah, masyarakat, kan tor, pabrik

bahkan bisa terjadi di jalan dan tentu saja di lembaga pendidikan formal dan non formal

(Sardiman, 2000: 20)

Makna belajar menurut beberapa ahli yang dikutip oleh Sardiman yaitu:

1) Cronbach

Learning is shown by a change in behavior as a result of experience.

2) Harold Spears

Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to

follow direction.

3) Geoch

Learning is a change in performance as a result of practice.

(Sardiman, 2000: 20)

Menurut Sardiman belajar dalam arti lu as yaitu kegiatan psiko-fisik menuju ke per

kembangan pribadi seutuhnya, sedangkan da lam arti sempit belajar adalah usaha pengu

asaan materi ilmu pengetahuan yang merupa kan sebagian kegiatan menuju terbentuknya

kepribadian seutuhnya. (Sardiman, 2000: 20)

Relevan dengan pengertian di atas, bela jar adalah berubah, artinya suatu peru bahan pada

individu-individu yang belajar. Peru bahan tidak hanya berkaitan dengan penam bahan ilmu

pengetahuan, tetapi juga berben tuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengerti an, harga diri,

minat, watak, dan penyesuaian diri. Perubahan ini bisa dilakukan dengan membaca,

mengamati, mendengarkan, meni ru, dan sebagainya.

Menurut Oemar Hamalik menge mukakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang

relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. (Oemar Hamalik, 2003: 154). Kriteria

keberhasilan dalam be lajar diantaranya ditandai dengan ter jadinya perubahan tingkah laku

pada diri individu yang belajar. Seperti yang dikemukakan oleh (Nana Sudjana, 2007: 8)

bahwa:

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri seseorang.

Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk,

seperti berubah pe ngetahuan, pemahaman, sikap, dan ting kah laku, keterampilan,

kecakapan, ke biasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang

bela jar

Slameto mengemukakan bahwa belajar a dalah suatu proses usaha yang dilakukan

sese orang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2007:

9).

Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah:

1) Perubahan terjadi secara sadar.

2) Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.

3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.

4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.

5) Perubahan dalam belajar bertujuan terarah.

6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.

Dari definisi belajar tersebut dapat disim pulkan bahwa belajar adalah suatu

perjalanan yang dilakukan seseorang dengan tujuan un tuk memperoleh sesuatu hal dimana

terjadi perubahan tingkah laku yang disebabkan ka rena adanya pengalaman. Ada beberapa

ciri-ciri dari pengertian belajar, yaitu:

1). Belajar merupakan suatu perubahan ting kah laku yang terjadi melalui interaksi an tara

individu dengan lingkungan nya kare na Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi

melalui latihan dan penga laman, dalam arti perubahan-perubahan karena pertumbuhan dan

kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar. di dalam interaksi inilah terjadi se

rangkaian pengalaman belajar.

2). Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, dalam

arti perubahan-perubahan karena pertumbuhan dan kematangan tidak dianggap sebagai hasil

belajar.

3). Perubahan yang disebabkan oleh belajar harus relatif lama, dalam arti perubahan tersebut

tidak hanya bersifat sementara tetapi dalam jangka waktu yang lama.

4). Tingkah laku yang mengalami perubahan karena menyangkut berbagai aspek kepribadian,

baik fisik maupun psikis.

Aktivitas Belajar

Dalam proses pembelajaran, keaktif an peserta didik merupakan hal yang sangat

penting dan perlu diperhatikan oleh guru se hingga proses pembelajaran yang ditempuh

benar-benar memperoleh hasil yang optimal. Dengan bekerja siswa memperoleh pengeta

huan, pemahaman, dan keterampilan serta pe rilaku lainnya, termasuk sikap dan nilai.

Proses pembelajaran yang berlangsung di kelas, sebetulnya sudah banyak melibatkan

akademik aktivitas siswa di dalam kelas. Sis wa sudah banyak dituntut aktivitasnya untuk

mendengarkan, memperhatikan dan mencer na pelajaran yang diberikan oleh guru. Serta

dimungkinkan siswa aktif bertanya kepada guru tentang hal-hal yang belum jelas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan aktivitas berasal dari kata kerja a

kademik aktif yang berarti giat, rajin, selalu berusaha bekerja atau belajar dengan sung guh- sungguh supaya mendapat prestasi yang gemilang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007:

12). Pengertian lain dikemukakan oleh Wijaya yaitu “Keterlibatan intelektual dan emosional

siswa dalam kegiatan belajar me ngajar, asimilasi (menyerap) dan akomodasi (menyesuaikan)

kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan, serta pengalaman langsung dalam

pembentukan sikap dan nilai” (Wijaya, 2007: 12).

Kadar keaktifan dalam belajar secara efektif menurut Tabrani Rusyan, (1994: 128-129) dapat

dinyatakan dalam bentuk:

1) Hasil belajar peserta didik pada umum nya hanya sampai tingkat peng gunaan. Siswa

biasanya belajar dengan meng hafal saja, apabila telah hafal siswa mera sa cukup.

Padahal dalam belajar, hasil be lajar tidak hanya dinyatakan dalam pe nguasaan saja tetapi

juga perlu adanya penggunaan dan penilaian.

2) Sumber belajar yang digunakan umum nya terbatas pada guru dan satu dua buku bacaan.

Hal ini perlu dipertanyakan apa kah siswa mencatat penje lasan dari guru dengan efektif

dan apa kah satu-dua buku itu dikuasainya dengan baik. Jika tidak, aktivitas belajar siswa

kurang optimal ka rena miskinnya sumber belajar.

3) Guru dalam belajar kurang merangsang aktivitas belajar siswa secara optimal. Se bagai

contoh pada umumnya guru menga jar dengan menggunakan metode cera mah dan tanya

jawab. Jarang sekali diada kan diskusi dan diberikan tugas-tugas yang memadai. Hal

inipun tidak jarang kurang ditunjang oleh penugasan dan ke terampilan guru dalam

menggunakan me tode-metode tersebut.

Rosseau menyatakan bahwa dalam belajar segala pengetahuan harus diperoleh dengan

pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, de ngan bekerja sendiri, dengan fasilitas yang di

ciptakan sendiri, baik secara rohani maupun teknis (Rosseau dalam Sardiman A.M, 2000:

96). Hal ini menunjukkan bahwa setiap oleh rang yang bekerja harus aktif sendiri, tanpa a

danya aktivitas maka proses belajar tidak mungkin terjadi. Lebih lanjut Montessori me

negaskan bahwa anak-anak itu memiliki tena ga-tenaga untuk berkembang sendiri, mem

bentuk sendiri, dan pendidik akan berperan sebagai pembimbing dan mengamati bagai mana

perkembangan anak didiknya (Montess ori dalam Sardiman A.M, 2000: 96).

Jika kegiatan belajar mengajar bagi siswa diorientasikan pada keterlibatan intelektual,

emosional, fisik dan mental maka Paul B. Diedrich menggolongkan aktivitas belajar siswa

sebagai berikut:

1) Visual activities, seperti: membaca, mem perhatikan gambar, demonstrasi, perco baan,

pekerjaan orang lain dan sebagai nya

2) Oral activities, seperti: menyatakan, me rumuskan, bertanya, memberi saran, me

ngeluarkan pendapat, mengadakan in terview, diskusi, interupsi dan sebagai nya.

3) Listening activities, seperti mendengar kan uraian, percakapan, diskusi, music, pidato

dan sebagainya.

4) Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan, tes, angket, menyalin dan

sebagainya.

5) Drawing activities, seperti menggambar, membuat grafik, peta, diagram, pola dan

sebagainya.

6) Motor activities, seperti melakukan per cobaan, membuat konstruksi, model, me reparasi,

bermain, berkebun, memelihara binatang dan sebagainya.

7) Mental activities, seperti menanggap, mengingat, memecahkan soal, mengana lisis,

melihat hubungan, mengambil ke putusan dan sebagainya.

8) Emosional activities, seperti menaruh mi nat, merasa bosan, gembira, berani, te nang,

gugup dan sebagainya (Paul B. Diedrich dalam Sardiman A.M, 2000: 101).

Berdasarkan pengertian aktivitas belajar di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas

belajar merupakan kegiatan belajar yang harus dilaksanakan dengan giat, rajin, selalu

berusaha dengan sungguh-sungguh melibatkan fisik maupun mental secara optimal yang

meliputi Visual activities, Oral activities, Listening activities, Writing activities, Drawing

activities, Motor activities, Mental activities, Emosional activities supaya mendapat prestasi

yang gemilang.

Aktivitas belajar seperti di atas dapat dialami seorang siswa di sekolah maupun pada

waktu belajar di rumah. Bentuk aktivitas belajar yang lain adalah diskusi di antara teman,

mengerjakan pe kerjaan rumah yang diberikan oleh guru, dan lain sebagainya dimana semua

aktivitas itu bertujuan untuk memberikan peran aktif ke pada siswa dalam proses

pembelajaran. Oleh sebab itu, besar harapannya seorang siswa yang benar-benar aktif akan

memperoleh hasil belajar yang baik.

Aktivitas Belajar IPA

Dari pengertian aktivitas belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar

IPA adalah kegiatan belajar IPA yang me libatkan kemampuan intelektual, emosional, fisik

dan mental, baik melalui kegiatan me ngalami, menganalisis, berbuat maupun pem bentukan

sikap secara terpadu supaya terca pai prestasi belajar IPA yang baik.

Berpikir Kreatif

Menurut Iskandar (2009: 88) definisi ke mampuan berpikir kreatif dilakukan dengan

menggunakan pemikiran dalam mendapat ide-ide baru, kemungkinan yang baru, cipta an

yang baru berdasarkan kepada keaslian da lam penghasilannya. Ia dapat diberikan da lam

bentuk ide yang nyata ataupun abstrak.

Ciri Karakter Cerdas dan Kreatif

Terdapat 10 (Sepuluh) ciri-ciri karakter cerdas dan kreatif, yaitu : (1) Imajinatif. (2)

Mempunyai prakarsa. (3) Mempunyai minat luas. (4) Mandiri dalam berpikir. (5) Meli

hat(selalu ingin tahu tentang segala hal). (6) Senang berpeluang. (7) Penuh energi. (8)

Percaya diri. (9) Bersedia mengambil re siko.(10) Berani dalam pendirian dan keya kinan

(SC. Utami M, 2004: 31).

Sedangkan ciri-ciri aktivitas menurut Conny Semiawan, dkk (1994: 29) dorongan

ingin tahu besar; sering mengajukan perta nyaan yang baik; memberikan banyak gagasan atau

usul terhadap suatu masalah; bebas dalam menyatakan pendapat; menonjol dalam salah satu

bidang seni; mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah

terpengaruh orang lain; daya imajinasi kuat; orisinalitas tinggi (tampak dalam ungkapan

gagasan, karangan, dan sebagainya serta menggunakan cara-cara orisinal dalam peme cahan

masalah); dapat bekerja sendiri; dan se nang mencoba hal-hal yang baru.

Kemampuan cerdas dan kreatif peserta di dik tidak hanya menerima informasi dari gu

ru, namun peserta didik akan berusaha men cari dan menemukan informasi dalam proses

pembelajaran. Kemampuan kreatif akan men dorong peserta didik merasa memiliki harga

diri, kebanggaan dan kehidupan yang lebih dinamis.

Aktivitas mempunyai hubungan erat de ngan kepribadian seseorang. Pengembangan

kemampuan kreatif akan mempengaruhi pa da sikap mental atau kepribadian seseo rang.

Siswa yang kreatif akan memiliki kepribadi an yang lebih integratif, mandiri, luwes dan

percaya diri.

Meskipun aktivitas merupakan konsep yang pengertiannya sangat kompleks, mengi

dentifikasi ciri-ciri aktivitas pada diri sese orang siswa, sedikitnya dapat membantu me

ngenal bagaimana sebenarnya seorang siswa yang kreatif itu. Adapun ciri-ciri siswa kreatif

adalah seba gai berkut: (1) Memiliki rasa ingin tahu yang mendalam. (2) Memberikan banyak

gagasan, usul-usul terhadap suatu masalah. (3) Mam pu menyatakan pendapat secara spontas

dan tidak malu-malu. (4) Mempunyai rasa kein dahan. (5) Menonjol dalam satu atau lebih

bidang studi. (6) Dapat mencari pemecaha(7) Mempunyai rasa humor. (8) Mempunyai daya

imaginasi (misalnya memikirkan hal-hal baru dan tidak biasa). (9) Mampu mengajukan

pemikiran, gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain. (10) Kelancaran dalam

meng hasilkan bermacam-macam gagasan. (11) Mampu menghadapi masalah dari berbagai

sudut pandang (Reni AH, 2001: 5).

Ciri-ciri kepribadian kreatif, diantaranya:

1) Mempunyai daya imajinasi yang kuat

2) Mempunyai inisiatif

3) Mempunyai minat yang luas

4) Mempunyai kebebasan dalam berpikir

5) Bersifat ingin tahu

6) Selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru

7) Mempunyai kepercayaan diri yang kuat

8) Penuh semangat

9) Berani mengambil resiko

10) Berani mengemukakan pendapat dan memiliki keyakiknan (Munandar, 2004: 97).

Walaupun ada perbedaan cara pengungkapan pendapat para ahli tersebut di atas

namun pada prinsipnya tidak jauh berbeda. Dari beberapa pendapat tersebut pada prinsipnya

bahwa ciri-ciri perilaku yang ditemukan pada orang-orang yang memberikan sumbangan

kreatif yang menonjol adalah berani dalam pendirian/keyakinan, ingin tahu yang besar,

mandiri dalam berpikir, ulet, dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat. Perilaku atau cirri- ciri kepribadian krearif tersebut di atas sangat diinginkan oleh pendidik terhadap para siswa

dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan prestasi belajar dan mencapai tujuan

pembelajaran.

Proses Kreatif

Melalui pro ses kreatif yang berlangsung dalam benak orang atau sekelompok orang,

produk kreatif tercipta. Produk itu sendiri sangat beragam, mulai dari penemuan mekanis,

proses kimia baru, solusi baru atau pernyataan baru mengenai sesuatu masalah dalam

matematika dan ilmu pengetahuan; komposisi musik yang segar, puisi cerita pendek atau

novel yang menggugah yang belum pernah ditulis sebelumnya; lukisan dengan sudut

pandang yang baru; seni patung atau fotografi yang belum ada sebelumnya; sampai dengan

terobosan dalam aturan hukum agama, pandangan filsafat, atau pola perilaku baru (Desmita,

2006: 176). Dalam semua bentuk produk kreatif, selalu ada sifat dasar yang sama, yaitu

keberadaannya yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Sifat baru itulah yang

menandai produk atau

proses kreatif adalah:

1). Produk yang sifatnya baru sama sekali yang sebelumnya belum ada

Dalam semua bentuk produk kreatif, selalu ada sifat dasar yang sama, yaitu

keberadaannya yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Sifat baru itulah yang

menandai produk atau proses kreatif Menurut Nashori & Mucharam (2002: 95)

2). Sifat-sifat baru yang merupakan ciri produk dan proses kreatif adalah: Produk yang

memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada sebelumnya.

3). Suatu produk yang bersifat baru sebagai hasil pembaharuan (inovasi) dan pengembangan

(evolusi) dari hal yang sudah ada.

Hakikat IPA

Pengertian IPA

Sains merupakan suatu kebutuhan yang dicari manusia karena memberikan suatu cara

berpikir sebagai suatu struktur pengetahuan yang utuh. Secara khusus, sains menggunakan

suatu pendekatan empiris untuk mencari penjelasan alami tentang fenomena yang diamati di

alam semesta.

Kata sains berasal dari kata latin scientia yang berarti “saya tahu”. IPA merupakan

singkatan dari Ilmu Pengetahuan Alam yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu

“Natural Science atau Science”. Natural artinya alamiah, berhubungan dengan alam atau

sangkut paut dengan alam. Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi, IPA secara harafiah dapat

disebut sebagai ilmu tentang alam ini, ilmu yang mempelajari peristiwa yang terjadi di alam

(Srini M. Iskandar, 1997: 2).

Menurut Bachtiar Rifai menyatakan bahwa sains didefinisikan sebagai pengetahuan

sistematis tentang interaksi sebab dan akibat (Bachtiar Rifai dalam Uswatun Khasanah, 2007:

19).

Menurut Hidayat dan Sutrisna menyatakan bahwa sains adalah upaya untuk mencari

pengetahuan untuk memahami fenomena alam atau mencoba menerangkan fenomena alam

(Hidayat dan Sutrisna dalam Uswatun Khasanah, 2007: 19). Dalam sains dicari jawaban

terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mendasar yang mungkin kemudian hari dapat

ditetapkan pada kegunaan praktis. Sedangkan menurut Gill menyatakan bahwa sains adalah

sekumpulan nilai-nilai dan prinsip yang dapat menjadi petunjuk pengembangan kurikulum

dalam sains (Gill dalam Galib, 2003: 3).

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa IPA adalah upaya untuk

mencari pengetahuan untuk memahami fenomena alam atau mencoba menerangkan

fenomena alam dan merupakan pengetahuan sistematis tentang interaksi sebab dan akibat.

Pembelajaran IPA

Adapun tujuan utama pengajaran sains di sekolah menurut Depdikbud adalah:

a. Memahami konsep sains dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

b. Memiliki keterampilan proses sains untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang

alam sekitar.

c. Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerja sama,

dan mandiri.

d. Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di

lingkungan sekitar.

e. Mampu menerapkan berbagai konsep sains untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan

memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.

f. Mempu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk memecahkan masalah- masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

g. Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alams sekitar, sehingga menyadari kebesaran

dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa (Depdikbud dalam Uswatun Khasanah, 2007: 21)

Pada awal perkembangannya dimana sains didefinisikan sebagai kumpulan konsep,

maka metode pengajaran sains yang dilakukan adalah dengan memberi penekanan pada

penguasaan konsep-konsep yang telah ada. Pengajaran ini bersifat tradisional karena pada

pelaksanaannya berdasarkan buku teks. Pada penerapannya materi pelajaran dibagi secara

diskrit dan diorganisasikan ke dalam topik-topik yang sempit serta sedikit usaha untuk

menghubungkan antar topik.

Menurut Mackinnu pengajaran sains selama ini masih memiliki banyak kelemahan

antara lain:

a. Kurikulum dan pengajaran sains yang diterapkan saat ini merupakan pengajaran yang

berorientasi pada disiplin ilmu. Implikasinya materi yang diajarkan kepada siswa sifatnya

seringkali menjadi lebih abstrak dan jauh dari pengalaman siswa.

Materi yang diajarkan siswa pada dasarnya merupakan materi yang dipersiapkan untuk

mengikuti pelajaran

b. pada tahap berikutnya. Konsekuensi dari hal ini adalah timbulnya kerugian bagi para

siswa yang tidak mengikuti salah satu tahap tersebut (dalam arti tidak meneruskan ke

jenjang yang lebih tinggi lagi).

c. Metode pengajaran pada umumnya menggunakan ceramah dan kadangkala disertai

dengan percobaan verifikasi laboratorium yang sudah jadi. Akibatnyasiswa menjadi pasif

dan sulit untuk berkembang apalagi sampai pada tingkat mental dan emosionalnya.

d. Minimnya keterkaitan antara konsep dan teori dengan aplikasi dan pengalaman dalam

kehidupan sehari-hari.

e. Kurikulum dan pengajaran yang ada sangat terkotak-kotak dan tersekat satu sama lainnya.

Hal ini menyebabkan cara berpikir siswa menjadi terkotak-kotak pula (Mackinnu dalam

Rusmansyah dan Irhasyuarna, 2003: 98).

Sains dan pengajaran sains di Indonesia dapat dikatakan merupakan transplantasi dari

pendidikan barat. Karena merupakan transplantasi, proses pertumbuhannya sering menemui

kendala yang bertautan dengan budaya dan kebiasaan setempat, local dan regional. Sikap

yang seharusnya berkembang bersama dengan bertumbuhnya pertanyaan mengenai kegunaan

sains bagi kehidupan dan sosial belum sepenuhnya terimbas.

Pada pengajaran sains saat ini mempunyai tujuan menciptakan warga negara yang

dapat mengerti sains dalam multidimensi dan multidisiplin. Penguasaan ini akan membuat

mereka dapat berprestasi mengimbangkan intelegensi siswa dengan berpikir kritis, berusaha

memecahkan masalah dan membuat keputusan tentang bagaimana sains dan teknologi

diguanakan untuk mengubah masyarakat. Pengajaran yang lengkap hendaknya melibatkan

pengajaran sains, teknologi dan kultur masyarakat. Pengajaran yang merangkum komponen- komponen tersebut telah berkembang pada tahun 1980-an dalam suatu pendekatan yang

disebut Science Technology Society (STS) atau dikenal pula sebagai Sains Teknologi

Masyarakat (STM).

Hakikat Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat

Pengajaran IPA di SD selalu mengalami kemajuan sesuai dengan perkembangan

jaman. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk meningkatkan kualitas IPA secara optimal.

Perkembangan IPA terutama dari segi metode yang diterapkan pada proses pengajaran IPA

telah mengalami beberapa perkembangan sesuai dengan perkembangan jaman dan

disesuaikan dengan lingkungan kehidupan sehari-hari serta keterampilan maupun

kemampuan siswa.

Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan istilah yang diterjemahkan dari

bahasa Inggris “science technology society”, yang pada awalnya dikemukakan oleh John

Ziman dalam bukunya Teaching and Learning about Science and Society. Pembelajaran

science technology society berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains

dan masyarakat (John Ziman dalam Anna Poedjiadi, 2007: 99). Iskandar juga menyampaikan

bahwa STM merupakan pendekatanterpadu antara sains, teknologi, dan isu yang ada di

masyarakat (Iskandar dalam Hidayati, Mujinem dan Anwar Senen, 2008: 6-29).

Menurut Rusmansyah & Yudha Irhasyuarna, STM adalah suatu pendekatan yang

mencakup seluruh aspek pendidikan yaitu tujuan, masalah yang akan dieksplorasi, strategi

pembelajaran, evaluasi, dan persiapan guru. Pendekatan ini melibatkan siswa dalam

menentukan prosedur pelaksanaan, pencarian informasi, dan dalam evaluasi (Rusmansyah &

Yudha Irhasyuarna, 2003: 99). Tujuan utama pendekatan STM ini adalah untuk

menghasilkan lulusan yang cukup mempunyai bekal pengetahuan sehingga mampu

mengambil keputusan penting tentang masalah dalam masyarakat (NSTA Report dalam

Rusmansyah & Yudha Irhasyuarna, 2003: 99).

Apabila ditinjau dari tuntutan kurikulum 2004, penerapan STM dalam pembelajaran

dapat mengembangkan keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Adapun keenam

Info Cara Cek Estimasi Gaji Pensiun dan Tunjangan Hari Tua Pegawai Negeri Sipil


Assalamualaikum wr..wb
Salam sejahtera buat kita semua.

Informasi berikut ini terkait PNS yang dapat mengecek Besaran gaji Pensiun dan Tunjangan hari tua di aplikasi taspen berikut ini. Sebelum itu kami akan menjelaskan apa itu gaji pensiun dan THT dan siapa yang berhak mendapatkannya.

Cara cek mengetahui gaji pensiun dan tunjangan hari tua PNS di taspen maka waktu sekarang para Pegawai Negeri Sipil bisa mengetahui berapa estimasi perkiraan dana pensiun yang diterima PNS ketika telah masuk usia pensiun.

Program Pensiun PNS merupakan jaminan hari tua berupa pemberian uang setiap bulan kepada Pegawai Negeri Sipil yang telah memenuhi kriteria sebagai berikut seperti resmi dilansir dari laman website taspen di www.taspen.com antara lain adalah sebagai berikut :

Cara Mengetahui Gaji Pensiun Dan Tunjangan Hari Tua PNS

PT Taspen (Persero) juga melakukan pembayaran pensiun kepada :

Penerima Pensiun Pejabat Negara.
Penerima Tunjangan Perintis Kemerdekaan.
Penerima Tunjangan Veteran.
Penerima Pensiun Anggota TNI/POLRI yang pensiun sebelum April 1989.

Tujuan manfaat uang pensiun dan tunjangan hari tua Pegawai Negeri Sipil adalah untuk

Memberikan jaminan hari tua bagi para pegawai negeri atau peserta taspen pada saat mencapai umur usia pensiun.
Dan juga sebagai penghargaan atas jasa-jasa pegawai negeri peserta taspen setelah yang bersangkutan memberikan pengabdian kepada negara.

PT TASPEN (Persero) atau Tabungan dan Asuransi Pensiun adalah Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang bergerak di bidang asuransi tabungan hari tua dan dana pensiun Pegawai Negeri Sipil.

Program Tabungan Hari Tua (THT)

Syarat Peserta Tabungan Hari Tua (THT) antara lain adalah sebagai berikut :

PNS ( tidak termasuk PNS di lingkungan Departemen Hankam).
Pejabat Negara.
Pegawai BUMN/BUMD yang terdaftar.

Berikut ini langkah cara cek estimasi gaji pensiun pns dan juga tunjangan hari tua Pegawai Negeri Sipil yaitu :

Mengunjungi online alamat website berikut ini : e-klim.taspen.com/eklim/estimasi
Setelah itu sahabat semuanya akan mendapatkan tampilan lanman website portal seperti tercantum dalam gambar diatas.
Untuk mengetahui Estimasi Hak Pensiun THT, silahkan sahabat-sahabat login dengan memasukan NIP Lama/Baru yang terdiri dari angka 9 digit.
Nilai Estimasi Hak THT dihitung dengan masa kerja maksimal hingga usia pensiun pns yang bersangkutan akan bisa muncul.

Setelah sahabat-sahabat memasukkan data dan login dengan menggunakan NIP Lama atau NIP baru akan akan menghasilkan berapa besaran dana pensiun PNS yang akan diterima nantinya dan hasil estimasi ini hanya sampai saat ini.

Bila ingin mengetahui keseluruhan pembayaran dana pensiun maka tinggal dikalikan dengan jumlah usia umur pensiun nantinya. Dan kurang lebih akan muncul seperti gambaran contoh berikut ini :
Estimasi Dana Pensiun Tunjangan Hari Tua PNS

Demikian cara cek gaji pensiun dan THT bagi PNS yang ingin tahu berapa gajinyananti jika ia pensiun!
Semoga informasi ini bermanfaat untuk Bapak/Ibu PNS diseluruh Indonesia.

Tips Cara Membuat Diktat


Sebagai seorang guru mungkin anda sering membuat ringkasan sebelum mengajar. Ringkasan ini sangat sederhana namun sangat bermanfaat bagi guru dan murid, disamping memudahkan guru dalam mengajar, siswa juga akan dimudahkan dalam kegiatan pembelajaran. Karena tidak harus membaca buku yang tebal-tebal.

Diktat juga sangat mudah untuk dipelajari, dihafal dan juga murah dari segi ekonomi, karena ringkas, padat, dan sederhana. Coba bandingkan dengan harga sebuah buku pelajaran yang rata-rata di atas harga tiga puluh ribu, jika dengan diktat harganya sekitar sepuluh ribu sampai lima belas ribu. Jelas lebih murah kan?

Dengan diktat juga mudah untuk memantau ketercapain tujuan pembelajaran, karena praktis, mudah dan sangat dikuasai oleh guru yang bersangkutan, mengingat diktat adalah karyanya sendiri.

Ringkasan pada tiap-tiap bab mata pelajaran itu, apabila rajin kita kumpulkan dalam file, kemudian kita beri judul dan sampul dengan kemasan yang bagus, maka jadilah ia diktat. Tanpa sadar guru telah membuat sebuah diktat. Lalu diktat itu direvisi tiap tahun sehingga menjadi baik dan sempurna, maka derajatnya menjadi sebuah buku. Jika ditawarkan pada penerbit dan disetujui. Jadilah ia sebuah buku pelajaran. Tanpa sadar guru itu telah menjadi seorang penulis buku. Nah jika itu semua dapat terwujud, tidak hanya akan cepat naik pangkat, tapi juga akan menjadi guru kaya.

Mungkin sangat berlebihan kalau saya mengatakan demikian. Namun ada benarnya juga apabila dicoba mulai sekarang. Apalagi bagi Bapak-bapak dan Ibu-ibu guru yang sudah puluhan tahun duduk manis di golongan IV/a. Harusnya mulai sekarang harus bangkit dari duduk manisnya.

Memang sih membuat diktat nilai kredit poin nya hanya satu, akan tetapi nilainya pasti. Sehingga apabila guru membuat diktat tiga buah dalam satu tahun, maka PASTI ia mendapatkan kredit tiga poin. Sehingga tanpa membuat karya lain apapun, dalam jangka waktu empat tahun sudah dapat nilai 12 poin, ini cukup untuk naik ke IV/b. Dari pada tidak berbuat sama sekali, kan lebih baik berkarya meskipun sedikit-sedikit. Apalagi Anda yang saat ini masih digolongan III/d, segera berkarya sejak sekarang.

Pokoknya sekarang kita realistis dulu, artinya berkarya dari yang kecil-kecil dulu, yang mudah-mudah dulu. Untuk memulainya sangat mudah yang penting adalah disiplin.
Kuncinya adalah disiplin diri, tidak ada sebuah karya hanya mengandalkan ide dan mood, saja. Akan tetapi ide dan mood itu harus digali, kalau perlu dipaksa. Kalau tidak dipaksa jangan harap akan dapat menyelesaikan sebuah karya.

Membuat Diktat Mata Pelajaran
Nah sekarang ikutilah tip saya berikut ini !
Pertama bukalah dan baca perangkat pembelajaran anda, lihat pula buku-buku yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran.

Bacalah satu bab dulu.
Buatlah ringkasan sebaik-baiknya. Untuk membaca dan membuat ringkasan paling tidak membutuhkan waktu dua jam. Lalu ketik dalam sebuah file, lalu simpan.

Kalau datang penyakit malas, maka segeralah minum obatnya. Obat malas hanya satu, yaitu ‘dipaksa’ , tidak ada obat yang lainnya.

Ulangilah untuk hari berikutnya, dengan kegiatan yang sama, sampai pada bab terakhir selesai.

Kalau anda disiplin, maka dalam jangka waktu lima belas hari anda sudah mempunyai satu buah karya yang Istimewa. Tinggal dijilid, dan dimintakan tanda tangan pengesahan dari kepala sekolah. Maka Anda Telah Sukses Mendapatkan SATU angka kredit.

Kriteria Sebuah Diktat
Untuk membuat sebuah karya (diktat) yang layak,yang dapat dihargai angka kreditnya tentu tidak sembarangan dalam pembuatannya.
Berikut ini bisa menjadi pedoman Anda dalam membuat Diktat.

Ketentuan Umum
Diktat dibuat oleh guru yang memang mengajar mata pelajaran dimaksud. Contohnya seorang guru Bahasa Inggris yang mengajar Bahasa Inggris ia dapat menulis Diktat Bahasa Inggris.

Diktat dibuat dalam muatan satu tahun (dua semester)
Diktat dimaksud digunakan di sekolah yang bersangkutan atau oleh sekolah lain dan juga dikoleksi di perpustakaan (dibuktikan dengan surat pernyataan dari pepustakaan sekolah)Harus disahkan serendah-rendahnya oleh kepala sekolah.

Sekurang-kurangnya DIKTAT memuat sebagai berikut
Judul
Halaman Pengesahan
Kata Pengantar
Dafatar Isi
Isi atau Materi Pelajaran
Daftar Pustaka
Lampiran

Pejelasannya adalah sebagai berikut
Judul Diktat
Judul harus mencerminkan Isi Diktat secara umum, yaitu memuat nama mata pelajaran, kelas, kurikulum yang dianut, nama dan lokasisekolah, nama penulis dan tahun penulisan. Judul cukup sederhana akan tetapi harus menarik

Halaman Pengesahan
Agar diktat diakui oleh orang lain, harus disahkan lebih dulu. Yang mengesahkan paling rendah adalah kepala sekolah, jika diktat digunakan pada level sekolah, jika digunakan pada level Kabupaten tentu inas Pendidikan dan seterusnya.

Kata Pengantar dan Daftar Isi
Sudah jelas, tidak perlu diuraikan lagi.

Isi Diktat
Diktat berisi uraian materi pelajaran yang dikelompokkan dalam beberapa BAB sesuai dengan cakupan materi yang ada.
Kelengkapan materi pelajaran adalah:
Di dalam penyusunan materi pelajaran, sebuah diktat perlu dilengkapi dengan perangkat penunjang berupa Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Tujuan Pembelajaran.

Uraian Materi
Penyajian materi pada diktat perlu memperhatikan beberapa kaidah yang penting, diantaranya:
Disajikan dalam bahasa yang lugas, tegas yang memuat pokok-pokok materi yang penting. Tidak memperbanyak penjelasan sisipan, contoh-contoh, diagram maupun sisipan penunjang lainnya.Kalau mengutip sebuah buku atau pendapat orang lain harus mencantumkan sumbernya.
Selanjutnya di akhir materi, sebuah diktat harus dilengkapi perangkat penilaian. Perangkat penilaian harus mencantumkan : Naskah soal, kunci jawaban, dan skala (skor) penilaian.

Daftar Pustaka
Daftar pustaka adalah nama-nama buku (sumber lainnya) yang menjadikan rujukan dalam penulisannya. Kaidah penulisan daftar pustaka untuk diktat sama dengan daftar pustaka yang ada pada penyusunan buku atau karta tulis lainnya.

Lampiran
Lampiran merupakan data tambahan yang dianggap penting sebagai pendukung materi pokok, sehingga materi pokok benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Yang dapat dilampirkan meliputi: gambar, diagram, program, surat-surat dokumen dan lain-lain.

Okey, selamat mempraktekan dan sampai jumpa lagi pada tips berikutnya.

Oya, bagi anda yang berminat dan membutuhkan contoh diklat silahkan hububungi kami di 089693446114 /GRATIS 🙂

Resep Cuci Darah Dengan Biaya Murah


Seperti kita ketahui belakangan ini banyak makanan yang mengandung pengawet, pewarna tekstil, penyedap rasa, dan pemanis buatan menjadi salah satu penyebab terjadinya berbagai penyakit serius termasuk gagal ginjal.

Jika dibiarkan penyakit ini bisa berujung pada kematian. Salah satu penanganan terhadap penyakit ginjal adalah dengan melakukan cuci darah. Namun, cuci darah dengan menggunakan alat sangat mahal dan juga tidak terlalu berdampak optimal.

Tahukah kamu bahwa sebenarnya ada cara cuci darah alami yang bisa kamu lakukan. Caranya sangat mudah dan sangat murah Ladies. Kamu hanya perlu mengeluarkan uang beberapa ribu rupiah saja namun bisa mendapat manfaat sehatnya. Rahasianya ada pada seledri. Berikut resep yang bisa kamu coba untuk cuci darah alami.

Siapkan:

Seikat daun seledri
1 liter air

Cara Membuat:

Cuci bersih seledri dan potong kecil-kecil.
Siapkan panci dan didihkan air bersama seledri selama 10 menit.
Diamkan sampai dingin.
Saring dan tuangkan air seledri dalam botol dan simpan dalam lemari es.

Untuk hasil maksimal minumlah satu gelas air seledri ini setiap hari. Semua endapan racun dan juga garam yang ada dalam tubuh akan larut dan keluar bersama air seni. Seledri memang merupakan obat alami yang digunakan untuk mencuci ginjal dan tidak ada efek sampingnya Ladies. Jadi kamu bisa membiasakan kebiasaan ini untuk hidup yang lebih sehat. Semoga informasi ini bermanfaat ya!

Pola hidup yang tidak sehat dan banyaknya makanan yang mengandung pengawet, pewarna tekstil, penyedap rasa, dan pemanis buatan menjadi salah satu penyebab terjadinya berbagai penyakit serius termasuk gagal ginjal Ladies. Jika dibiarkan penyakit ini bisa berujung pada kematian. Salah satu penanganan terhadap penyakit ginjal adalah dengan melakukan cuci darah. Namun, cuci darah dengan menggunakan alat sangat mahal dan juga tidak terlalu berdampak optimal.

Tahukah kamu bahwa sebenarnya ada cara cuci darah alami yang bisa kamu lakukan. Caranya sangat mudah dan sangat murah Ladies. Kamu hanya perlu mengeluarkan uang beberapa ribu rupiah saja namun bisa mendapat manfaat sehatnya. Rahasianya ada pada seledri Ladies. Berikut ini Vemale akan memberikan satu resep yang bisa kamu coba untuk cuci darah alami.

Siapkan:

seikat daun seledri
1 liter air

Cara Membuat:

Cuci bersih seledri dan potong kecil-kecil.
Siapkan panci dan didihkan air bersama seledri selama 10 menit.
Diamkan sampai dingin.
Saring dan tuangkan air seledri dalam botol dan simpan dalam lemari es.

Untuk hasil maksimal minumlah satu gelas air seledri ini setiap hari. Semua endapan racun dan juga garam yang ada dalam tubuh akan larut dan keluar bersama air seni. Seledri memang merupakan obat alami yang digunakan untuk mencuci ginjal dan tidak ada efek sampingnya. Jadi kamu bisa membiasakan kebiasaan ini untuk hidup yang lebih sehat.

Oke selamat mencoba ya….dan semoga informasi ini bermanfaat.. 😀

Pasrah Artinya Yakin…


 

Apa yang harus kita lakukan saat menyadari akan datangnya sesuatu hal yang tidak menyenangkan? Semisal sebongkah metoer yang berputar-putar dengan mengarah tertuju pada diri kita?

Apakah kamu akan lari tunggang langgangkah?
Apakah kamu akan diam berpikir untuk mencari solusi bagaimana supaya terhindar dari hantaman batu meteor itu?
Atau kamu hanya akan berdoa, pasrah, pasang badan sajakah?

Bayangkan jika kamu lari tunggang langgang, apakah kamu yakin mampu berlomba dengan kecepatan meteor yang mengejarmu?
Bayangkan juga jika kamu diam berpikir untuk mencari solusi agar terhindar dari batu meteor itu, hahha.. seberapa lama kamu akan berpikir? Dalam kondisi bingung mana mungkin kamu akan mampu berfikir, apalagi kalau kamu lemot… Uhh, habislah sudah, secara meteor gitu lohhh… 😀
Nah, dua hal buruk yang amat mungkin terjadi sudah kita bayangkan, prediksinya sepertinya kita akan finish, habis, tuntas, lenyap!

Sekarang tinggal satu hal lagi yang belum kita bayangkan, yaitu pasrah alias pasang badan saja sambil berdoa. Habis mau bagaimana lagi, menghindari atau berlomba dengan kecepatan meteor adalah satu hal yang mustahil.
Sesuatu yang besar yang tidak mungkin bisa kita hindari, sesuatu yang di luar kemampuan kita, jadi memang akan lebih baik jika kita berpasrah saja,sambil berdoa dan berharap adanya satu keajaiban, yahh, jika memang belum saatnya …. Meteor itu pasti akan berpindah arah, dan batallah kita dari hancur lebur… Bisa saja khan? Ya yakin, pasti bisa jika Allah SWT menghendaki!!…